We sing our committed life ever since the very beginning of our age. We wrote our memories of this place, drew our faces in every corner of its building. We long to go back for that memories and path. Committing to a particular path in life comes more easily when you know what you're committing to and who or what will support you along the way. It's the
beauty of being a SEMINARIAN.

FUND RAISING JAKARTA - 28 & 29 JULY 2012

Sabtu, 28 Juli 2012 sore dan Minggu, 29 Juli 2012, Rm Deni akan memimpin misa 5 kali di Paroki Santa Perawan Maria Blok Q, dan Rm Tanto 4 kali misa di Paroki Aloysius Gonzaga Cijantung Jakarta. Mohon doa dari semua teman sekalian supaya lewat kegiatan ini Seminari Tuka diberkati dengan limpah.

Selamat akhir pekan.

Terima kasih

Saturday, July 28, 2012 (afternoon) and Sunday, July 29, 2012, Rm Deni will lead the mass (five times) in the Parish of the Blessed Virgin Mary Block Q, and Rm Tanto (four times) in the Parish of Aloysius Gonzaga at Cijantung Jakarta. Expecting prayers from all friends so this activity may bring abundant blessings for Seminary Tuka.

Happy weekend.

Thank you

Search This Blog

Gerakan Orang Tua Asuh Seminari Tuka Bali

Gerakan Orang Tua Asuh Seminari Tuka Bali
Let's Participate! Contact: seminaritukabali@gmail.com

Monday, July 18, 2011

Jumpa Seminaris: Ikatan Awal Jaringan Kaum Terpanggil

Frater Eli 

Ikatan adalah syarat untuk menciptakan kesatuan dalam keanekaragaman. Inilah kira-kira yang saya temukan dalam Jumpa Seminaris Region Jawa Bali 20-23 Juni 2011. Tujuan dari kegiatan ini adalah menciptakan persaudaraan di antara para seminaris agar bisa saling mendukung dalam menjalani panggilan. Persaudaraan yang ingin dibangun bukanlah persaudaraan beberapa hari yang kemudian hilang tertinggal perjalanan waktu, melainkan persaudaraan yang berkelanjutan. Jadi sebenarnya tujuan kegiatan ini adalah menciptakan jejaring tanpa batas dan tanpa putus di antara kaum terpanggil.  Namun persaudaraan tidak pernah bisa diikat dalam beberapa hari dan bertahan sepenjang masa; mesti ada kelanjutan. Hal inilah yang sudah terjadi…

Satu Tekad, Satu Hati, Satu Panggilan merupakan tema yang diangkat dalam jumpa seminaris kali ini, dengan berbagai kegiatan yang mampu mendorong persatuan di antara para seminaris yang berasal dari daerah, buadaya, dan karakter yang berbeda. Masa perkenalan menjadi awal yang baik menuju hubungan yang lebih intens. Segan, malu-malu, jaga image, ragu, merupakan hal wajar yang muncul pada jumpa pertama, yang nantinya akan kita tertawakan ketika kita menjadi akrab. Kelompok-kelompok kolaboratif menjadi media untuk mengenal seminaris dari seminari lain, dan mulailah terbentuk sebuah kelompok kecil baru, sebuah ikatan muda di antara kelompok yang berbeda.

Aktivitas
Mengamati para seminaris yang penuh dengan gairah panggilan, seperti tetap melihat sebuah harapan cerah akan Gereja masa depan  yang bisa hidup di tengah keanekaragaman yang makin kompleks. Para bujang Kristus ini begitu cepat melihat, mendengar, menerima, dan berbagi dalam perbedaan. Suasana outing yang penuh gandengan tangan, saling menggendong, membantu, tertawa bersama, spontanitas merupakan hal-hal sederhana yang menunjukkan kemampuan membawakan diri dan menerima orang lain yang berbeda. Ada bersama dengan orang lain, bekerja sama dengan orang lain, saling mendukung merupakan hal penting selain pemikiran-pemikiran, perencanaan, dan program yang bagus.

Jumpa seminaris bertujuan menciptakan persaudaraan di kalangan seminaris, sehingga mereka bisa saling meneguhkan dan mendukung dalam panggilan. Rasa persaudaraan dan kebersamaan disadari sebagai hal penting di tengah dunia yang semakin penuh tantangan. Masih relevanlah sebuah pepatah: bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Kita menyadari bahwa panggilan itu tidak hanya merupakan hal yang pribadi; kita mendengarnya lalu menjaga dan menumbuhkannya dengan segenap tenaga kita sendiri. panggilan juga tumbuh dalam kebersamaan, tumbuh dalam sebuah komunitas.

Seminaris - Seminari Roh Kudus Tuka
Para seminaris rupanya sangat menyadari akan pentinganya kerbersamaan dan persatuan dalam panggilan. Hal ini ditunjukkan dalam antusias mereka menyambut dan menjalani kegiatan jumpa seminaris. Rupanya perhatian terhadap masa depan Gereja tidak hanya dimiliki oleh para imam, para seminaris pun mempunyai keprihatinan terhadap arah dan tujuan Gereja. Dalam kegiatan ini ada banyak sharing tentang panggilan; suka-duka, kegembiraan, kecemasan, harapan, tantangan, solusi, banyak hal diceritakn dengan gaya masing-masing. Di sana terdapat aksi saling menguatkan, mendengarkan, memberi tanggapan; inilah yang seringkali menguatkan panggilan. Dalam persatuan yang utuh Gereja mampu berkembang dan bertahan.

Dalam kurang lebih 4 hari, keakraban sudah terjalin di antara para seminaris. Tapi kita tidak bisa berkumpul seperti itu terus-menerus. Kita harus pulang dan kembali mengikatkan hubungan yang sudah terjalin dengan teman-teman yang ada di seminari masing-masing. Satu hal yang menjadi kecemasan dalam rapat persiapan ialah tidak ada kelanjutan dari kegiatan ini. Dikhawatirkan kegiatan ini hanya menjadi beberapa hari penuh hura-hura, kemudian hilang tanpa bekas. Ternyata yang terjadi tidak seperti yang dicemaskan. Sampai saat ini masih terjalin hubungan yang baik. Terbentuk FORTS JALI alias Forum Temu Seminaris Jawa Bali di facebook untuk selalu bisa keep and touch, untuk tetap saling meneguhkan di antara kaum terpanggil yang kini tidak hanya terbatas pada mereka yang mengikuti kegiatan jumpa seminaris, tetapi juga bagi mereka yang merasa terpanggil, ingin berbagi dan meneguhkan dalam panggilan.

Kegiatan jumpa seminaris merupakan media menciptakan persaudaraan, persatuan dalam keanekaragaman. Menciptakan jaringan berarti merajut komponen-komponen kecil ke dalam satu kelompok yang senantiasa terbuka pada ikatan-ikatan baru yang menguatkan. Semoga kegiatan jumpa seminaris menjadi sebuah ikatan awal yang terus menerus mengembangkan simpul-simpulnya menjadi semakin lebar dan kuat. Dengan kebersamaan dan kerja sama, menjawabi panggilan akan terasa lebih menggembirakan. Bukankah menyenangkan jika kita mempunyai teman? 

(Frater Eli)


Wednesday, July 13, 2011

My Journey in the Catholic Church in Bali by Doreen Agnes

Doreen and the BICC's choir on Dec 12, 2008 Tuka Seminary Concert
at Kuta Church
In 1991 I came to live in Bali. I went to the Church in Kuta a very small building. The mass was in Indonesia and nobody even said good morning. I went for a while but found it to be boring not knowing the language very well at the time. One Christmas Eve I went to mass and the police were checking everyone out for bombs. As I left them a man spoke to me, at the time I didn’t realize he was the parish priest until I saw him celebrate the mass. I found out there was an English mass on Sunday evening so decided that it would be good for me to go. Fr. Hady always spoke to me so I felt I was beginning to belong.

My friend Margaret used to meet me in Church as she was always running late, but one night she was early so as she wanted to smoke we went to the back so she could have a cigarette. Fr. Deni came through and he stopped and spoke to us told us he had been in Ireland and when asked his name, he said Fr. Deni so we all sang a few lines of Danny Boy. This was the start of an ongoing friendship. He gave me the name of the orphanage in Dalung. I started visiting the Panti Asuhan Sidhiastu Tuka with my friends. I used to take some of the kids to the beach and my home for lunch. My friends who are non-Catholic still support them.

Fr. Terry Burke, MMH, founder of the BICC
currently lives in Kuching Serawak.
One night Fr. Deni told me he was going to the Seminary and Fr. Terry would be taking his place. Fr. Terry formed a group called Bali International Catholic Chaplaincy or BICC. As the Church di not pay him for his services when we held a meeting it was decided to give out envelopes to collect help for his living expenses. While I was in Australia I was nominated as a welcome, I was very hesitant at first at first as I am a very shy person but as time I went on it became much easier for me.

I joined Father Terry’s Bible Study Group and also attended his meditation mass. I was thinking of ways to raise money for the Seminary, so I thought the choir from BICC and the Seminarians could put on a concert. I attended meditation mass and after I stayed to invite the choir to participated, they said first we will practice handed me a hymn book so I just sang along with them then we spoke a little about the concert eventually they agreed to do this and this is how I joined the choir. I have a very happy association with them. The kids call me Mama, Grannie, etc.

Now to my involvement with the Seminarians I would go up to Sidhiastu Orphanage and the Tuka Seminary. One Tuesday I was going to see Fr. Deni and he asked when I was getting there and I wondered what the hurry I soon discovered he had the boys who were going onto the Major Seminary without their normal teacher as they were in the Upper Preparation Class. He just took me to the classroom with no preparation to talk to them in English. Wow, as I have a strong Scottish accent it was very hard at first, but after a couple of sessions they began to understand. I spoke to them every Saturday until they left the Seminary here in Bali. I raise money for the Seminary in different ways and it feels my life with a reason not just staying home vegetating. Sr. Tin, RVM at the Seminary and I are good friends but unfortunately she is going to Kupang in the of July.
Fr. Deni Mary, rector of Tuka Seminary
with his Seminarians.

I am still welcoming people to St. Francis Xavier and still sing in the choir so at long I feel I am where God wants me to be. I was lost for a long time; my life seemed empty, because after being a reader, Eucharistic minister, leading a prayer group, etc. in Australia had nothing spiritual in my life. Now, I have friends with whom I pray, friends whom I respect. So, life is good. 
-- Doreen Agnes: currently lives in Sidakarya-Denpasar

Wednesday, July 6, 2011

Norah Jones, Susan Boyle, Ruth Sahanaya dan John Michael Talbot


NORAH JONES (www.norahjones.com)



Terlahir sebagai putri musisi besar Ravi Shankar tentu tidaklah mudah. Putra-putri orang-orang ternama seringkali menyandang beban berat nama besar orang tuanya sejak mereka dilahirkan. Tetapi Norah Jones atau Geethali Norah Jones Shankar, demikian nama lengkapnya, mewarisi bakat dan kemudian nama besar ayahnya dalam karirnya sebagai musisi dan penyanyi. Dilahirkan pada tahun 1979, pada usia yang sangat muda – album perdananya yang berjudul  Come Away With Me yang dirilis pada tahun 2002 meraih penghargaan diamond album dengan rekor penjualan di atas 20 juta copy.
Tahun 2003 pada acara tahunan Tanglewood Jazz Festival yang diselenggarakan di Lenox Massachusetts, Norah Jones berada dalam satu panggung bersama pianis jazz legendaris Mauren Mc Partland. Acara tersebut dikemas dalam bentuk wawancara dan performance.
How did you get start it singing when you were a little girl?” demikian pertanyaan pembuka dari Mauren Mc Partland kepada Norah Jones.
Yang dijawab oleh Norah Jones sbb, “Saya memulainya dengan bernyanyi dalam paduan suara gereja, ketika saya baru berumur sekitar enam atau tujuh tahun……”





Susan Boyle, penyanyi dengan suara emas yang terlahir dalam ajang Britain’s Got Talent 2009, penampilan perdananya jauh dari pesona seorang penyanyi panggung ketika muncul pertama kali dalam TV show tersebut. Gaya rambut, caranya berpakaian dan bahasa tubuhnya sempat menjadi bahan cemooh para penonton yang hadir  langsung pada episode tersebut bahkan juga para juri yang terlibat di dalamnya. Tetapi suara emasnya ketika ia mulai bernyanyi memukau seluruh penonton serta para juri dan seketika melenyapkan ejekan-ejekan sebelumnya. Sesudah terkenal Susan Boyle masih tetap menjadi bagian paduan suara dan menyanyi di Gereja Katolik Blackburn, West Lothian, Scotland.








RUTH SAHANAYA
Salah satu dari tiga Diva Indonesia saat ini dengan suara indahnya, sampai sekarang masih aktif menyanyi dalam Christian Gospel Band – True Worshippers.

JOHN MICHAEL TALBOT (www.johnmichaeltalbot.com)

Tidak terlalu dikenal di Indonesia, tapi John Michael Talbot adalah penyanyi, composer dan gitaris Katolik yang sangat terbakat, pendiri Biara “The Brothers and Sisters of Charity”. Dilahirkan pada tanggal 8 Mei 1954, perjalanan hidup spiritualnya begitu menarik sampai ia menemukan titik akhir pencariannya. Syair dalam lagu-lagunya bermakna sangat dalam: I commit my life to Your hands; I offer it all now to You. With all the affection of my heart and my soul, because, O Lord, I love You." – salah satu penggalan syair dalam lagu “I Abandon Myself.





Kita tidak pernah tahu, talenta yang diberikan Tuhan, yang mungkin saja pada saat ini baru terlihat di lingkungan yang sangat kecil, seperti komunitas Gereja atau Seminari, kelak di kemudian hari menjadi sebuah karya besar seperti cerita mereka-mereka di atas yang menjadi inspirasi tulisan ini. Catatan malam Pentas Seni (Pensi) dari kegiatan Temu Seminaris Regio Jawa-Bali 2011 di Magelang kemarin, menjadi inspirasi dan refleksi tersendiri  untuk kita di Seminari Menengah Roh Kudus Tuka agar lebih mengembangkan diri serta berani menggunakan anugerah bakat dan kemampuan yang dimiliki untuk kebaikan dalam banyak hal.
Simak bagaimana kehebatan Wacana Bhakti Orchestra dari Seminari Jakarta, atau pertunjukan Sendratari Tradisional St. Petrus Canisius yang dipertontonkan para Seminaris Mertoyudan yang begitu memukau, juga simak penampilan Sendratari Kotemporer Minakjinggo dari Bumi Blambangan para Seminaris Marianum Probolinggo yang mendapat banyak decak kagum penonton. Semua itu bukan untuk membuat kita kecil hati, tapi membuat kita perlu belajar dan berbenah. Di balik penampilan gagah para Seminaris dari Tuka dalam majejangeran, masih banyak hal yang perlu dan bisa kita buat ke depannya. Sudah waktunya Seminari Tuka  kembali ke jaman di mana sekaa tabuh gamelan, sendratari, dan drama Seminari begitu dikenal. Sejarah lahirnya kebudayaan Bali Katolik justru bermula di Seminari Tuka, saat tarian dan gamelan diintroduksi ke dalam perayaan Ekaristi pertama kali. Menghidupkan kembali ingatan sejarah, spirit, dan kreativitas yang ada, serta didukung oleh talenta-talenta muda berbakat merupakan cita-cita Seminari Bali untuk menyongsong usianya yang ke 60 tahun.
Semoga.


swfz-070711

Jadi AlatNya

Ketika orang memuji prestasiku yang menggunung, talentaku yang berlipat
Kukatakan bahwa semua ini hanyalah anugerahNya, hanyalah titipanNya
Sekedar mengatakan bahwa aku cukup tahu diri dan rendah hati

Kukatakan bahwa diriku hanyalah alat di tanganNya
Sebatang pensil untuk menulis, yang dikerat runcing
Seonggok tanah liat untuk periuk, yang dilembabkan, diremas dan dibakar
Sebilah pahat untuk mengukir, yang digodam pada batu
Sebatang buluh tuk bersuling, yang diketam, dilubangi dan dibakar

Kuandaikan diriku dengan apa saja
Sekedar mengatakan betapa sakitnya menjadi alatNya,
Yang berfungsi saat ada sebuah tujuan yang lain
Yang ditakdirkan untuk menghadirkan sebuah keindahan

Kusebut diriku hanyalah milikNya
Kupersilakan Ia memakai seluruh adaku
Lantas kenapa sekarang aku marah ketika proses itu tak sesuai harapanku
Kenapa aku berontak saat proses itu tidak menyenangkanku
Bukankah Ia bebas memakai apa yang menjadi milikNya itu?

Kutolak segala sakit dan derita
sekedar mengatakan bahwa semua harus berjalan sesuai mauku
Lantas apa yang tersisa jika untuk semua itu aku masih tak pernah beranjak dewasa?

Tuesday, July 5, 2011

Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan


Kata “Galungan” berasal dari bahasa Jawa Kuna yang memiliki arti menang atau bertarung.
Seperti yang dituliskan pada kartu bahwa Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan mana yang berasal dari budhi atma yaitu berupa kebenaran dalam tubuh manusia.
Dirayakan dalam hitungan waktu enam bulan sekali, merupakan sebuah hari raya penting bagi rekan-rekan beragama Hindu.


Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan.
Rahajeng Nyanggra Galungan lan Kuningan dumogi Sang Hyang Widhi Wasa 
asung kerta wara nugraha ring semeton sareng sami.

Monday, July 4, 2011

Titik Terendah (The Lowest Point)

The Godless life: kehidupan di mana Tuhan tiada. Kita berteriak tetapi Tuhan seperti tuli, membiarkan, dan tidak peduli. Seperti pengalaman Yesus yang merasa ditinggalkan oleh Allah yang disapaNya sebagai Abba (Daddy/Papa). Para philosopher semacam Nietzche, Feurenbach mendeklarasikan God is dead.  Hidup rohani menyebutnya pengalaman kegelapan, kekeringan (desolasi). Buku terakhir tentang Teresa of Calcutta menggambarkan pengalaman gelap Mother of the Poor itu. Pengalaman kegelapan dirasakan oleh banyak orang kudus, seperti Fransiskus Asisi: ketika komunitas yang dibangunnya mulai pecah. Teresa Avilla menulis pengalaman melampaui kegelapan itu dalam buku Interior Castle (Diterjemahkan sebagai Puri Batin). Therese Lesseux mengungkapkan: pada titik terendah Tuhan sebetulnya begitu dekat dengan kita. Namun soalnya, di situ persisnya kita ingin berhenti, putus asa, ingin lari, tidak tahan.
 
Berada di titik terendah si Pemazmur berteriak: “dari jurang yang dalam aku berseru kepadaMu ya Tuhan…” Meskipun dalam dan gelap, ditinggalkan sendiri, dia tetap berteriak memanggil: “Allahku ya Allahku mengapa Engkau meninggalkan aku?” (Mzm 22). Meski seruan itu seperti menyentuh ruang yang kedap, menyisakan echo semata, ia tetap berteriak. Atau mungkin di situ letak pelajaran yang ingin dibagikan? (SW)




Sunday, July 3, 2011

Menggendong


SEORANG perempuan menggendong bayi: salah satu lukisan relief di Basilica de Lourdes yang sempat kurekam. Gambar yang biasa bagi mata kebanyakan kita khususnya di masa-masa Natal. Bukan pigura bunga dan bayi-bayi bersayap itu yang mengundang perhatianku. Sebab bayi-bayi telanjang, sayap, dan awan adalah proyeksi gereja yang hidup di dunia antah berantah, mengambang di udara, dan tidak membumi. Itulah ciri khas wajah gereja Abad Pertengahan. Gereja yang kemaruk oleh kuasa dan harta benda. Gereja yang hidup dalam menara gading, berumah di angin, dan jauh dari realita orang kebanyakan.


Aku pun tak tertarik dengan gambar perempuan keibuan dengan payudara montok menyimbolkan kesuburan. Sebab perempuan dalam gambar itu lebih sebagai figur yang berperan dalam reproduksi biologis. Karena peran perempuan pada Abad Pertengahan direduksi ke wilayah domestik dan sexual reproduksi.


Aku justru terkesan dengan tindakan menggendong dalam gambar itu. Entah mengapa aku tertarik. Kukira tak ada kaitannya dengan membantu menarik dan mengangkat beberapa orang tua dalam kursi roda, saat pendakian yang licin karena hujan di City of the Poor. Namun aku ingat satu hal. Sejak pertama datang di Lourdes, aku berjumpa seorang gadis di ruang makan hotel. Senyumnya manis, dan dia terbilang muda di antara para tamu Jeanne d'Ark hotel tempatku menginap. Sebuah hotel bintang tiga yang selalu identik dengan peziarah dari Irlandia. Kami tak pernah bicara, hanya sekedar tegur sapa bila bersua di koridor atau bar hotel. Sekedar mengucapkan selamat pagi atau malam, atau berhai ria. Aku melambai padanya ketika pesawat mendarat kembali di Dublin. Pikirku, itulah lambaian terakhir untuknya.


Tanpa diduga dia muncul kembali dalam airport bus sebagai penumpang terakhir. Kembali kami saling menyapa. Dan ia duduk di sebelahku memulai percakapan. Pembicaraan yang mengesan sehingga ada janji untuk bisa bertemu kembali sekedar menikmati teh atau lunch merampungkan segala cerita yang tak sempat terucapkan. Tapi kutahu sejak itu aku selalu terbangun dengan wajahnya di kepalaku. Kutak tahu banyak siapa dia. Dan aku tak berani untuk menelponnya sekedar mendengar suaranya atau menanyakan kabarnya. Kini aku mengerti saat teringat kembali gambar perempuan menggendong bayi di salah satu dinding Basilica.


Semula Zen yang memulai kisahnya: Dua rahib beriring, tiba di tepi sungai dan menemukan jembatan telah rusak. Terpaksa mereka harus memotong arus menyeberangi sungai itu. Namun seorang perempuan cantik tengah tertahan di kaki jembatan rusak itu tak bisa menyeberang.


Rahib yang tua itu menawarkan diri menggendong perempuan cantik itu menyeberangi sungai dipunggungnya. Ia mau. Rahib muda terkejut, begitu kaget oleh ulah tindakan rahib tua. "Lhooo, kok saudara murid yang tua ini boleh menggendong seorang gadis, padahal kami ini harusnya kan musti menghindari segala keintiman dengan perempuan?" pikirnya, tapi ia tinggal diam.


Rahib tua menggendong gadis itu menyeberangi sungai dan rahib muda mengikuti dari belakang, cemberut dan kurang senang hati. Setelah menyeberang, rahib tua pun menurunkan perempuan itu dan mereka berpisah darinya. Di sepanjang jalan, selama jarak bermil-mil, rahib muda masih sangat tidak senang dengan perbuatan rahib besar itu.


Ia membuat segala macam tuduhan-tuduhan terhadap rahib tua, mengisi otaknya dengan segala khayalan. Ini membuatnya makin marah dan kian mengamuk. Tapi masih saja dia bisa berdiam menahan diri. Dan rahib tuapun juga tidak berniat menerangkan situasinya. Akhirnya, pada suatu tempat istirahat, setelah lewat berjam-jam [saling membisu], rahib muda sudah tak tahan lagi, meledaklah ia penuh amarah, mengamuk pada rahib tua itu.


"Bagaimana kau bisa menyebut dirimu seorang rahib yang taat dan saleh, kalau kau langsung manfaatkan kesempatan pertama untuk menyentuh seorang perempuan, lebih-lebih dan apalagi kalau dia begitu cantik? Segala ajaranmu kepadaku membuatmu menjadi seorang munafik besar." Rahib tua itu cuma melihat penuh pertanyaan dan terpana dan berkata, "Aku berjam-jam yang lalu sudah menurunkan perempuan cantik itu jauh di tepi sungai itu, kok kau masih menggendong dan membawanya sampai sekarang?"


Dongeng Zen Cina yang amat kuno ini masih memantulkan cara pikir banyak orang hari ini. Kita menjumpai banyak hal-hal tak menyenangkan di dalam hidup kita, semuanya mengganggu dan membuat kita marah. Terkadang, mereka amat menyakitkan, kadang-kadang membuat kita merasa pahit atau iri hati. Seperti rahib muda itu, kita tidak ingin melepaskannya pergi.


Kita tetap masih saja menggendong karung "perempuan cantik" tadi. Kita membiarkan mereka semuanya datang kembali untuk menyakiti kita, membuat kita marah, membuat kita pahit dan menyebabkan banyak sekali derita. Mengapa? Sederhana sekali, ya karena kita sendiri yang tak mau menurunkan dan membiarkan pergi beban karung "perempuan cantik" itu.


Kita harus langsung menurunkan perempuan cantik itu, membiarkannya pergi segera setelah kita sudah menyeberangi sungai itu, langsung segera setelah hal yang tak menyenangkan terjadi. Inipun akan segera menghilangkan segala rasa derita sakit. Sudah tidak perlu untuk terus merasa sakit oleh peristiwa tak menyenangkan yang sudah terjadi. “Datang padaKu kalian semua yang letih lesu dan berbeban berat karena aku akan memberikan kepadamu kelegaan. Belajarlah daripadaKu, sebab aku lemah lembut dan bebanKu pun ringan!” (SW)