We sing our committed life ever since the very beginning of our age. We wrote our memories of this place, drew our faces in every corner of its building. We long to go back for that memories and path. Committing to a particular path in life comes more easily when you know what you're committing to and who or what will support you along the way. It's the
beauty of being a SEMINARIAN.

FUND RAISING JAKARTA - 28 & 29 JULY 2012

Sabtu, 28 Juli 2012 sore dan Minggu, 29 Juli 2012, Rm Deni akan memimpin misa 5 kali di Paroki Santa Perawan Maria Blok Q, dan Rm Tanto 4 kali misa di Paroki Aloysius Gonzaga Cijantung Jakarta. Mohon doa dari semua teman sekalian supaya lewat kegiatan ini Seminari Tuka diberkati dengan limpah.

Selamat akhir pekan.

Terima kasih

Saturday, July 28, 2012 (afternoon) and Sunday, July 29, 2012, Rm Deni will lead the mass (five times) in the Parish of the Blessed Virgin Mary Block Q, and Rm Tanto (four times) in the Parish of Aloysius Gonzaga at Cijantung Jakarta. Expecting prayers from all friends so this activity may bring abundant blessings for Seminary Tuka.

Happy weekend.

Thank you

Search This Blog

Gerakan Orang Tua Asuh Seminari Tuka Bali

Gerakan Orang Tua Asuh Seminari Tuka Bali
Let's Participate! Contact: seminaritukabali@gmail.com
Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Thursday, May 31, 2012

Bermati Raga, Semaikan Kerukunan

Proficiat untuk Seminari Menengah Mertoyudan.

Tulisan ini dikutip dari: dikutip dari Kompas, 01 Juni 2012

AB Kurniawan
Tanggal 30 Mei 2012, lembaga pendidikan calon imam Seminari Menengah Mertoyudan di Magelang, Jawa Tengah, memasuki usia 100 tahun. Di usianya yang seabad, seminari menengah itu tetap setia pada tradisi. Pendidikan khas yang ditekankan adalah kebiasaan bermati raga.
Di zaman yang serba instan saat ini, bermati raga, yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti 'memperteguh hati dengan menolak segala macam kesenangan diri' adalah sesuatu yang jarang dilakukan. Kebiasaan untuk memperoleh sesuatu dengan mudah dan cepat, sambil meniadakan proses, menggejala di segala kalangan.
Persoalan ini menjadi perhatian pengelola Seminari Menengah Mertoyudan sejak awal lembaga pendidikan calon imam ini didirikan. Ribuan alumnusnya tidak pernah lupa, setiap hari mereka harus makan sayur sawi dengan lauk tempe atau tahu. Hidup jauh dari keluarga dan mengasingkan diri di sebuah asrama yang homogen.
Donum Theo, alumnus Seminari Menengah Mertoyudan, yang kini menjadi pegawai negeri sipil di sebuah kementerian, mengaku berat saat pertama kali masuk sekolah itu. Selepas lulus SMP, anak bungsu asal Yogyakarta itu harus berpisah dengan orangtuanya. "Saya biasa dimanja. Tantangan terberat di seminari waktu itu adalah bangun pukul 04.30 dengan bel keras, lalu bekerja mengepel atau menguras kamar mandi. Saat di rumah, saya masih tidur saat diantar bapak ke sekolah dan baru membuka mata sesampainya di depan sekolah," ucapnya.
Bagi Donum, pengalaman hidup di seminari seperti memakan sayur pare (peria). Saat dimakan, rasa pertama yang ada adalah pahit, tetapi setelah memakan, tak ada rasa jera. Ia justru ingin merasakannya lagi.
"Kepahitan yang dahulu saya rasakan ketika masih remaja menjadi batu tumpuan pengembangan mental dan idealisme di kemudian hari. Saya percaya semua orang yang pernah berada di seminari merasakan hal itu," ungkap Donum.
Selama tinggal di asrama, komunikasi para seminaris (panggilan siswa seminari) dengan orangtua, teman, atau siapa pun di luar sangat dibatasi. Sewaktu kebiasaan surat-menyurat masih ramai, setiap surat yang masuk ke seminari selalu disensor oleh Romo Rektor (pemimpin seminari). Kebijakan ini tak dimaknai sebagai pengebirian hak pribadi, tetapi pembelajaran untuk membangun keterbukaan antara seminaris dan formator. Saat ini sensor surat tak ada lagi karena tradisi surat-menyurat telah digantikan oleh telepon seluler yang bisa mengirimkan pesan suara atau tulisan. Siswa seminari pun dilarang membawa telepon seluler.
"Sebelum masuk seminari, mereka tidak asing lagi dengan telepon seluler. Tetapi, di seminari ada baiknya mereka dilatih untuk pernah mengambil jarak dengan teknologi," kata Rektor Seminari Menengah Mertoyudan Romo Ignatius Sumaryo SJ.
Menurut Sumaryo, seminari tidak mengajarkan siswanya untuk anti terhadap teknologi. Namun, mereka bisa memperlakukan teknologi sebagai sarana dan bukan kebutuhan utama sehingga tahu kapan seyogianya dipakai atau tidak. Mentalitas bermati raga kian dipertajam.
"Anak-anak kita telah menjadi korban dari teknologi. Generasi mereka adalah korban dari bisnis. Di seminari, setidaknya mereka pernah menjalani pengalaman mengambil jarak terhadap teknologi," ungkap Sumaryo.
Pekerjaan kecil
Setelah masuk seminari, setiap seminaris yang biasa dilayani di rumah harus menata hidup sendiri. Setiap hari mereka diajak untuk setia melakukan pekerjaan kecil, seperti mencuci, menyapu, mengepel, menyetrika, dan bercocok tanam. Dengan pekerjaan kecil itu, kelak ketika menjadi pastor atau pemimpin awam, diharapkan mereka juga bisa menghargai pekerjaan orang kecil.
Tri Edi Warsono Pr, pastor diosesan lulusan Seminari Menengah Mertoyudan yang kini studi di Roma, mengaku tak bisa mencuci sama sekali saat pertama kali masuk seminari. Namun, lambat laun ia justru menjadi seminaris yang paling rajin dan rapi menyetrika.
Setiap hari, kesederhanaan hidup menjadi napas seminaris. Sejak dahulu, semua seminaris selalu dibiasakan tidur di atas papan kayu tanpa kasur dan hanya beralaskan tikar atau matras tipis. Meski banyak donatur yang menawarkan bantuan kasur, pimpinan seminari menolak. Kondisi itu adalah bagian dari pembelajaran.
Dengan bermati raga dan peduli pada hal-hal yang kecil, seminaris pun tak hanya tumbuh intelektualitasnya. Mereka juga mampu berempati dengan sesamanya sehingga tak ada keraguan untuk berelasi dengan warga sekitar dari berbagai kelompok, golongan, atau agama. Mereka tumbuh dengan menghargai keberagaman dan kerukunan dengan sesama.
Pengasuh Pondok Pesantren Tegalrejo, Magelang, KH Muhammad Yusuf Chudlori atau biasa disebut Gus Yusuf, merasakan pula "buah" dari model pendidikan di Seminari Menengah Mertoyudan itu. "Seminari punya perhatian yang kuat untuk mengenalkan sejak dini kerukunan hidup bersama dan saling menghormati. Pengenalan berelasi dengan umat beragama lain penting karena saat ini kerukunan beragama baru tampak di permukaan. Pimpinan agama berangkulan, sementara umatnya berkelahi," paparnya.
Bagi Gus Yusuf, seminari memiliki dampak positif terhadap masyarakat Magelang dan sekitarnya. Mereka menjadi contoh nyata tentang kemanusiaan dan relasi antarsesama umat beragama. "Saya berharap, lulusan seminari bisa menularkan virus perdamaian ini kepada seluruh bangsa," ungkapnya.
Seminari Menengah Mertoyudan pun diharapkan tetap setia dengan cara pendidikannya itu di usianya yang 100 tahun.


Foto Kenangan Seminari Roh Kudus Tuka
dalam Temu Seminaris se-Jawa - Bali 2011
di Mertoyudan

Sunday, May 6, 2012

Kejayaan itu dari Timur

Berikut ini kutipan tulisan Radar Panca Dahana yang dimuat dalam harian Kompas - 7 Mei 2012, untuk menjadi bahan renungan kita bersama.
Bagaimana saya harus mengungkapkan perasaan ini? Ketika mengunjungi beberapa anak negeri di kawasan Nusa Tenggara Timur, saya merasa seperti manusia kecil yang dapat berkah luar biasa bagi kebodohan dan kemiskinan pengetahuan saya.
Di bagian timur negeri tercinta ini hanya keindahan, kekaguman, dan rasa bahagia serta syukur tiada habis yang saya rasakan untuk apa yang saya dengar, rasakan, lihat, dan baru ketahui. Di belahan kepulauan dengan sejarahnya yang purba ini, hidup begitu indah. Semua orang menari dan menyanyi dengan rileks, ekspresif, dan berbahagia dalam keseharian mereka.
Di Larantuka, misalnya, hanya untuk persoalan berladang atau menanam padi, setiap tahun tak kurang 16 pesta adat diselenggarakan dengan meriah. Setiap bagian dari kegiatan pertanian itu dilakukan dengan tarian dan nyanyian, plus doa-doa penuh gairah dan kekhusyukan. Di Kupang, hampir semua restoran menyediakan musik hidup. Begitu pun rata-rata angkutan kota dilengkapi peralatan musik yang tidak sekadar bunyi. Hidup dengan alam dan tuntutan modern yang begitu keras mereka hadapi tanpa harus kehilangan kegembiraan, persaudaraan yang hangat, dan kesantunan yang wajar.
Apa yang lebih membahagiakan, sungguh begitu banyak bakat, potensi kuat dalam seni vokal (dengan kerongkongan yang ajaib, kata dramawan Putu Wijaya), lentur dan ekspresifnya tubuh anak-anak muda, dalam seni tradisi hingga hip hop bergaya mutakhir. Aktor-aktor teater dengan suara bulat, bening, dan artikulatif, tubuh yang ulet dan ”bicara” sebelum ia mendapatkan latihan teater yang sesungguhnya.
Di balik kerasnya sikap dan pertahanan adat mereka, kita mendapatkan kelembutan dan keramahan yang mengharukan. Ini membuat semua fenomena kekerasan belakangan ini jadi keganjilan dan kemustahilan bagi negeri dengan puluhan etnik dan 61 bahasa berbeda ini. Betapa kedegilan dan keangkaran sungguh mereka buktikan tidak lain adalah ekses dari modernitas dan tata hidup yang mengikutinya.
Di mana bangsa bermula
Tentu saja saya tak ingin mengatakan bahwa hanya di NTT, kelebihan, bakat-bakat hebat, potensi alam, serta adat yang kuat dan santun di atas dan menjadi ciri negeri ini. Saya mengerti, bahkan mungkin secara dekat, semua kondisi itu ada di banyak wilayah lain. Namun, di bagian timur Indonesia ini, termasuk di Kepulauan Maluku dan Papua, saya merasakan getar yang berbeda, unik, dan purba. Ia seolah gema yang terpantul dari kejauhan waktu, yang tak terjamah oleh kesadaran kita, intelektualitas, dan modernitas yang kita klaim dalam kemodernan ini.
Semua itu seperti berintegrasi dan bertemu titik dengan fakta-fakta (ilmiah) baru yang menyatakan bagaimana negeri bagian timur sesungguhnya adalah asal dari semua etnik dan subkultur—bahkan mungkin kebudayaan masa depan—bangsa ini. Di wilayah inilah ditemukan sisa peradaban paling purba manusia, seperti sistem perladangan, domestikasi binatang, hingga peran perempuan yang (cukup) dominan (menurut Bung Karno) dalam penciptaan kerja, pembagian tugas dengan lelaki, hingga penyusunan hukum-hukum paling awal dari kebudayaan manusia.
Lebih dari itu, di kawasan inilah kita menemukan bukti paling awal, bahkan sejak 5000 tahun SM, terjadinya pelayaran yang mengarungi samudra-samudra besar, menjadi nenek moyang—genetik, linguistik hingga kultural—dari berbagai masyarakat kuno di Kepulauan Polinesia, Mekronesia, hingga Selandia Baru, bahkan sisi timur Afrika. Bahkan, sebagian ahli meyakini, ia sudah mendahului keberadaan bangsa Dravida atau Tamil, yang dibuktikan dalam kitab-kitab kuno mereka, sebagaimana temuan lama menunjukkan hal serupa untuk mereka yang hidup di Seychelles dan Madagaskar.
Tak heran jika kemudian beberapa antropolog maritim menyatakan bahwa diaspora pertama dan terbesar di atas muka bumi ini, mencakup sekurangnya setengah dunia, dilakukan oleh mereka yang dahulu hidup dan berkembang di wilayah—terutama antara Maluku dan Papua—ini. Dalam persebaran inilah, di tingkat lokal, dalam perjumpaan yang tak terkira intensitas dan jumlahnya dengan penghuni-penghuni yang datang berikutnya, lahir keragaman luar biasa, dalam etnik/ras, adat-budaya, dan bahasa. Kenyataan ini hanya menciptakan kekaguman, rasa heran, serta ketakmengertian para ahli tentang bagaimana itu semua tercipta.
Di mana masa depan?
Hal yang ironis dari realitas di atas: ternyata bukan kaum ahli atau masyarakat ilmiah modern yang mengalami kegamangan, masyarakat asli pemilik semua sejarah dan kekayaan luar biasa itu juga mengalami kerancuan untuk memahaminya. Mengapa?
Ketika fakta sejarah, adab, dan budaya yang mengisinya kita pahami hanya dengan perangkat akal (rasional), bisa dipastikan ia akan menuju jalan buntu. Peradaban dan kebudayaan Indonesia tidaklah diciptakan melulu hanya dengan satu modus rasional misalnya. Ada keterlibatan emosional (naluri, insting) dan spiritual, di sisi keterlibatan kultur badan (fisikal) dalam proses yang integral itu. Artinya, tanpa juga melibatkan daya mental-spiritual dan fisikal, kita akan selalu gagal memahami kebudayaan dan jati diri bangsa ini.
Kebudayaan tidak bisa hanya dimengerti, tetapi juga dialami dan dilakoni. Dengannya kita akan mendapatkan pemahaman yang menyeluruh hingga di tingkat transenden dan imanen. Semua yang merasa bertanggung jawab pada bangsa dan negara ini harus mampu mengintegrasikan dirinya, pengetahuan modern, hingga praksis profesionalnya dengan modus pembudayaan dan pemberadaban di atas.
Jika diperkenankan, saya anjurkan selain para elite juga masyarakat luas melakukan semacam ”penemuan ulang” dari realitas adab—yang mungkin primordial itu—mereka sebaiknya juga melangkah ke bagian timur negeri ini. Di mana, dengan modus pemberadaban di atas, keseluruhan diri kita akan mendapatkan sebuah ”pengalaman” ajaib dan mengharukan tentang apa, siapa, dan dari mana sebenarnya kita bermula.
Inilah yang juga harus menjadi ”kesadaran baru” bagi rakyat di kawasan timur Indonesia. Bahwa, kekuatan mereka sebenarnya bukanlah pada sisi material, melainkan justru pada sisi kultural. Di wilayah inilah saudara-saudara kita sesungguhnya memiliki kapasitas terbaik untuk menunjukkan kekuatan terbesar dari bangsa Indonesia: kebudayaan!
Maka, tepatlah jika pada Hari Pers Nasional beberapa waktu, Presiden SBY menyatakan respek dan dukungannya pada bagian timur ini. Ia bahkan menjanjikan dana Rp 5 triliun sebagai bantuan pembangunan. Sayang, janji yang baik itu belum dilaksanakan.
Presiden harus merealisasi janji itu segera. Bukan karena alasan nostalgis dan romantis, melainkan pada realitas mutakhir yang ada, jati diri dan identitas kita yang masih samar saat ini—kejayaan negara-bangsa berkebudayaan di masa depan—akan terbit cahayanya dari timur.
Radhar Panca Dahana Budayawan

Thursday, April 12, 2012

Etika dan etiket


OLEH K BERTENS
Beberapa waktu lalu dalam rubrik "Klasika" Kompas edisi 5 Maret 2012 dimuat artikel singkat, "Etika Berbicara di Telepon". Di situ dijelaskan bagaimana operator telekomunikasi di perusahaan harus menjalankan tugasnya. Misalnya, ia tidak boleh bicara dengan nada tinggi. Nada bicara harus selalu dijaga dan tetap tenang. Sebagai pembuka percakapan, ia harus mengucapkan salam dan menyebutkan namanya kepada lawan bicara. Sebelum menutup pembicaraan, ia tidak boleh lupa mengucapkan terima kasih kepada lawan bicara, dan seterusnya.
Tidak disangkal, semua petunjuk itu berguna dan malah penting karena penampilan seorang operator telepon untuk sebagian menentukan "wajah" perusahaan bagi dunia luar. Namun, tidak benar bahwa hal-hal itu menyangkut etika. Petunjuk-petunjuk tadi bicara tentang etiket saja, bukan tentang etika. Mestinya penulis memakai judul "Etiket Berbicara di Telepon".
Seperti sering terjadi, di sini pun etika dicampuradukkan dengan etiket. Padahal, dua pengertian itu sangat berbeda: etika mengacu ke ranah moral, sedangkan etiket mengacu ke ranah sopan santun. Memang benar, ada alasan juga mengapa etika dan etiket sering disamakan. Pertama, bentuk kedua kata itu dalam bahasa Indonesia sangat mirip, seolah-olah yang satu hanya sekadar variasi dari yang lain. Kedua, dan lebih penting lagi, baik etika maupun etiket mengandung norma bagi tingkah laku kita.
Menurut etiket, kita sebagai pegawai perusahaan tidak boleh berbicara dengan pelanggan di telepon dengan nada tinggi atau dengan cara tidak sabar. Menurut etika, kita tidak boleh berdusta melalui telepon (ataupun dengan cara lain). Dalam dua contoh ini etiket dan etika memberi norma tentang perilaku yang sama, tetapi dari sudut pandang yang sangat berbeda. Etiket menyoroti baik-buruknya perilaku dalam arti sopan santun. Etika menyoroti baik-buruknya perilaku dalam arti moral.
Di sini tentu tidak dimaksudkan bahwa segi sopan santun tidak penting dalam pergaulan di masyarakat. Hanya mau dikatakan bahwa segi moral jauh lebih penting lagi. Mengapa demikian? Karena etiket hanya memandang manusia dari luar, sedangkan etika menilai manusia dari dalam dengan melihat ke dalam hatinya. Misalnya, kita menyaksikan bagaimana seorang koruptor melalui pembicaraan di Blackberry-nya dengan pejabat pemerintah merencanakan suatu usaha korupsi besar-besaran. Perilakunya sangat sopan. Berulang kali kita dengar, "Ya, Pak", "Tidak, Pak", "Terima kasih, Pak" dengan nada halus dan hormat. Namun, bagaimana dari sudut etika? Walaupun kita tidak mengerti isi pembicaraan karena orang itu terus pakai kode, pada kenyataannya perilakunya sangat tidak etis.
Barangkali sekarang sudah jelas mengapa etika dan etiket tidak boleh dicampuradukkan. Kalau kita lakukan begitu, kita bisa membuat kesalahan fatal dalam menilai tingkah laku orang. Banyak penipu berhasil dalam melakukan kejahatan justru karena berlaku sangat halus dan sopan. Sambil sepenuhnya memenuhi norma etiket, orang tetap bisa munafik. Etiket bisa menjadi kedok untuk menyembunyikan perbuatan yang tidak etis sekalipun. Dalam konteks etika, hal itu tidak mungkin.
K BERTENS Guru Besar Emeritus Unika Atma Jaya, Jakarta
Dikutip dari Harian Kompas Jumat, 13 April 2012

Tuesday, February 14, 2012

The Happy Priest




Menemukan kebebasan sejati melalui KETAATAN kpd Tuhan
Oleh Rm. James Farfaglia

Ketaatan merupakan kebajikan yg sangat sukar krn terkadang kebenaran benar-benar menyakitkan. 
Tapi, kita harus menyesuaikan hidup kita kepada kehendak Tuhan, bukan kehendak kita. 

Saya terus memberitakan Injil dan ajaran Gereja Katolik, meskipun hanya tersisa lima orang dibangku gereja. Gereja Katolik bukan menjalankan kontes ketenaran. 
Kebenaran harus selalu dijelaskan dengan kebaikan hati dan kesabaran, tetapi kita tdk akan pernah mengkompromikan kebenaran itu sendiri.

Sebagai org terbaptis Katolik merupakan kewajiban kita untuk patuh kepada Tuhan dan untuk mematuhi ajaran Gereja-Nya. Kepatuhan kepada Tuhan dan kepatuhan kepada Gereja-Nya merupakan pengalaman yang paling membebaskan yang diketahui oleh pribadi manusia.

Ketaatan memberikan kita kebebasan mutlak karena kita tidak berkubang didalam dosa, pikiran, keraguan n kesalahan. Mari kita mengingat apa yang Yesus katakan dilain tempat di dalam Injil: "kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (Yoh 8:32).

Kita semua tahu kita hidup didalam masa kekacauan. Ada kekacauan di dalam Gereja Katolik, ada kekacauan didlm masyarakat dan ada kekacauan di dlm kehidupan berkeluarga. 
Knp begitu banyak kekacauan? Ketidaktaatan. 
Orang tidak mendengarkan. Orang melakukan urusan mereka sendiri.

Sbg Imam Katolik saya terus menerus dikritik oleh bbrp dan diabaikan oleh org lain krn saya berdiri tegak dan dg penuh percaya diri, dg Paus dan semua ajaran Gereja. 
Saya mendengar komentar dr org yg mengatakan bhw bbrp org tdk dtg ke paroki saya krn mrk diberitahu apa yg harus dilakukan atau krn sy terlalu keras. Kita hidup di dalam jaman pemberontakan, ketidakpatuhan dan apostasy. Kebanyakan orang tidak mau mendengar kebenaran dan kebanyakan orang tidak mau diberi tahu bgmn menjalani hidup mrk, bahkan dlm aspek yg paling fundamental dari cara hidup orang Kristen.

Sebenarnya, kita bisa berbalik ke bagian lain dari Kitab Suci dan menemukan gambaran jelas pada waktu yang kita jalani skrg ini. St. Paulus, surat keduanya mengatakan kepada Timotius:

"Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng. Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberitaan Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!" (2Tim 4:3-5) 

Saya percaya bahwa kita hidup dijaman yang St.Paulus prediksikan.

Hari ini, kita semua tahu bhw Gereja, masyarakat dan keluarga berada didalam keadaan kekacauan karena kebanyakan orang tidak mau mendengarkan n kebanyakan org melakukan perbuatan mrk sendiri. Apa yg sehrsnya anda lakukan sekrg ini dan krisis yang sedang berjalan saat ini? Setialah dalam iman dan bertekunlah.

Hidup dan belalah Sepuluh Perintah Allah.
Hidup dan belalah Kitab Suci. Hidup dan belalah semua ajaran Gereja Katolik.

Kita semua tahu bhw hari ini semua org bisa menemukan Imam yg akan mengatakan kpd mereka apapun yg mrk mau dengar. Kita memiliki hadiah yang hebat dari Katekismus Gereja Katolik. Jika ada Imam yang mengatakan sesuatu yang tidak ada disana, tinggalkan. Temukan seorang Imam yang setia, berbicara kebenaran dan memiliki keberanian untuk mengambil sikap.

Amat disayangkan, hari ini, kebanyakan orang Amerika tidak mau mendengar kebenaran. Dalam kehidupan saya sebagai imam paroki saya sudah melihat orang pergi meninggalkan kebenaran hanya demi semangkuk kacang. Sebagian besar, yang mereka semua ingin lakukan adalah melanjutkan gaya hidup tak bermoral mereka.

Katekismus Gereja Katolik dengan hebat menjelaskan hubungan antara pelanggaran susila sekual dan kehilangan iman dengan perkataan ini:

"Sabda bahagia keenam menyampaikan: "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah". 
Hati yang murni merujuk kepada mereka yang telah membiasakan pikiran dan kemauan mereka untuk tuntutan kekudusan Allah, terutama didalam tiga arena: cinta kasih; kemurnian atau kejujuran seksual ; kasih dari kebenaran dan ortodoksi iman" (KGK2518)

Saya sangat gembira sekali fakta bahwa orang muda dan keluarga muda yang lapar akan Katolik-isme yang sesungguhnya. Saya sangat gembira sekali melihat begitu banyak orang muda dan keluarga muda di parokiku. 
Mereka memberikan harapan kepada masa depan. Mereka benar-benar mendapatkannya dan mereka membuat pilihan heroik dalam rangka untuk menjalani hidup sesuai Injil dalam dunia yang sangat menantang.

Romo James Farfaglia, The Happy Priest, adalah Pastor dr Santa Helena Salib Asli dr Yesus Gereja Katolik di Corpus Cristi, Texas dan jg anggota dr Board Direktur Human Life International. 
Anda bisa menunjungi website Romo James di www.fatherjames.org

Wednesday, December 21, 2011

Masa Depan Bernama Indonesia

Sejarah tidak pernah beringsut secara linier. Evolusi senantiasa disertai oleh involusi. Ada kemajuan sekaligus kemunduran. Tidak terkecuali Indonesia. Sejak Reformasi 1998, sudah banyak kemajuan yang dicatat republik ini. Demokratisasi menjanjikan kebebasan sipil dan politik yang merupakan barang langka sebelumnya.
Ekonomi mencatat pertumbuhan yang cukup konsisten. Pemberantasan korupsi berjalan cukup lumayan. Pendeknya, segenap indikator makro mewartakan kabar gembira.
Namun, di balik gempita kemajuan makro, selalu terselip berbagai kisah orang kecil dan kalah. Indikator makro tidak dapat menjelaskan mengapa nelayan di sentra produksi ikan nasional, seperti di Bagansiapi-api, tetap miskin. Indikator kemajuan demokrasi tidak dapat menjelaskan mengapa orang sulit sekali mendirikan tempat ibadah. Diskursus pembangunan senantiasa berfokus pada pencapaian-pencapaian raksasa dan gagal memeriksa nasib mereka yang paling tidak beruntung.
Diktum pertumbuhan
Pertumbuhan, apa pun kata sifat yang disandangnya, mengandaikan sejarah yang berlangsung linier. Masa depan bukan rahasia, melainkan angka, peringkat, atau rating. Masa depan bukan negativitas yang membikin kita berfokus pada ketidakmungkinan. Dia adalah kemungkinan yang dijemput dengan strategi, langkah, atau rencana. Dengan kata lain, diktum pertumbuhan melihat masa depan sebagai realisasi atau misrealisasi dari rencana.
Republik pun jadi kumpulan rencana demi memenuhi indikator kinerja kunci. Sejarah adalah buatan rencana kerja Presiden. Sementara rencana kerja Presiden bertumpu pada diktum pertumbuhan. Tengok saja pidato Presiden di DPR setiap tanggal 16 Agustus. Presiden senantiasa menyampaikan apa saja yang sudah dicapai berdasarkan diktum pertumbuhan. Patokan kemajuan yang paling sering disebut pertumbuhan ekonomi. Indonesia termasuk negara dengan pertumbuhan ekonomi stabil (6,5 persen) di tengah krisis yang melanda Eropa dan Amerika.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang oleh pasar domestik yang cukup besar dengan kelas menengah yang terus bertambah. Singkat kata, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh konsumsi. Konsumsi membutuhkan pasokan, dari mana pun datangnya.
Sebab itu, Indonesia membuka diri seluas-luasnya bagi modal asing. Modal asing membuka lapangan pekerjaan, yang artinya daya beli. Buat apa menolong nelayan lokal apabila industri pengalengan ikan dapat bernapas melalui impor ikan.
Pertumbuhan hanya berfokus pada kenaikan konsumsi serta bagaimana menjaga agar pasokan stabil dan daya beli kuat. Indonesia saat ini sedang harap-harap cemas agar dapat memperoleh peringkat investment grade di 2012. Peringkat itu bakal membuat Indonesia kian kinclong di mata investor asing. Peringkat tersebut menjanjikan peluang besar bagi Indonesia untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi dan memperbaiki kesejahteraan rakyat.
Masa depan Indonesia tidak lebih dari kumpulan angka dan peringkat. Namun, angka dan peringkat itu bukan masa depan mereka yang miskin. Nasib orang miskin hanya tergantung pada efek berantai dari naiknya jumlah investasi asing.
Angka dan peringkat adalah masa depan bagi mereka yang berkocek tebal sehingga mampu membeli surat berharga. Angka dan peringkat adalah masa depan para pemodal asing yang berniat menanamkan duitnya di republik ini.
Masa depan tanpa masa depan
Sejarah yang dipersepsi sebagai yang bergerak maju memiliki masalah. Kita pun tersedot perhatiannya pada segala sesuatu yang positif dan terukur. Sementara gerak sejarah tak hanya menghasilkan kemajuan positif, tetapi juga jejak-jejak negatif.
Sejarah sebagai dialektika positif membuat kita lalai memeriksa negativitas. Negativitas bukan isyarat perbaikan. Dia bukan got mampat dan banjir yang dapat diperbaiki secara struktural. Negativitas adalah lonceng abadi yang menyabot perhatian kita bahwa masa depan adalah ketidakmungkinan bagi sebagian orang.
Pertumbuhan senantiasa menyoroti pencapaian positif di masa depan. Sementara negativitas bersembunyi di dalam kekinian yang buram. Dia bersemayam di dalam kisah orang-orang yang berkesusahan.
Nelayan Bagansiapi-api adalah negativitas itu. Bayangkan! Setelah 12 jam melaut, nelayan di sana hanya mampu memperoleh ikan senangin sekitar 15 kilogram dengan harga jual Rp 320.000. Dengan penghasilan tersebut, keuntungan yang diperoleh hanya Rp 120.000. Setiap nelayan pun memperoleh Rp 40.000. Uang sebesar itu hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Tabungan tidak ada dan masa depan pun menjadi deus absconditas bagi para nelayan tersebut.
Pertumbuhan senantiasa menyoroti pentingnya pasokan. Saat nelayan Bagansiapi-api dan juga sebagian besar nelayan lainnya gagal memasok industri pengalengan ikan, impor ikan pun dibuka lebar. Semua itu dilakukan demi mengejar angka pertumbuhan ekonomi.
Kita tidak pernah berpikir tentang masa depan nelayan yang hidupnya ”senin-kamis”. Masa depan adalah pidato Presiden di depan DPR yang membeberkan berbagai capaian ekonomi makro. Kita berharap kenaikan produksi tembakau di sentra tembakau seperti di Jawa Timur. Namun, kita tidak peduli nilai tukar petani tembakau yang ditekan para tengkulak. Kenaikan produksi tembakau adalah masa depan tengkulak, bukan petaninya.
Saya memang sinis dengan upaya mengukur masa depan. Bulat lonjong republik ini di tahun 2012 tidak dapat diserahkan kepada indikator-indikator makro dalam diktum pertumbuhan. Namun, tidak berarti masa depan sama sekali tanpa ukuran. Bagi saya, masa depan bukan angka dan peringkat. Masa depan diukur berdasarkan perubahan radikal koordinat ketidakmungkinan mereka yang tidak beruntung. Perubahan radikal ini tidak teraba di dalam indikator-indikator makro. Dia hanya teraba di dalam militansi politik yang berpihak kepada mereka yang tidak bermasa depan.
Kemajuan republik ini tidak disandarkan pada jumlah modal asing yang masuk atau peringkat utang. Dia diukur berdasarkan sejauh mana nelayan Bagansiapi-api dapat menabung sehingga memiliki masa depan. Sejauh mana jaminan sosial membikin orang miskin penderita penyakit kronis tetap memiliki harapan. Indonesia, singkat kata, adalah masa depan bagi semua, bukan segelintir orang. Indonesia adalah masa depan bagi dia yang tidak bermasa depan.
Donny Gahral Adian Dosen Filsafat Politik UI

Tuesday, November 29, 2011

The Postman

The call 
Conall Ó Cuinn SJ sees in the film "The Postman" a parable of vocation, a way God can call us to our destiny, just as he called St Ignatius to be the founder of the Jesuits, a band of men with a new way of serving God.               
The film star Kevin Costner (Dances with Wolves, Thirteen Days, JFK) plays the role of a wandering loner in the film, The Postman. He's at rock bottom. It is the end of the line in many ways, not just for himself, but also for the US which is coming out of a seventeen-year environmental disaster following a devastating war. He himself has lost everything and has chosen 'to become a solitary witness to the chaos that reigned'. His motto, AVOID CIVILIZATION, reflects his cynicism about all relationships, both with others and with his country.

Taken prisoner, he manages to escape, but finds himself alone and lost on a cold, wet, hungry night. Losing his footing, he slides down a sharp incline and crashes into a wrecked US Postal Service van. The driver, now a skeleton, stares at him from the driving seat where he had died long ago. A bleak picture.



For Costner, the postal van means one thing: shelter. He manages to crawl in. In the skeleton's pocket he finds a lighter and a hip flask of whiskey. Jokingly, he toasts the dead postman and he warms himself by making a fire out of some letters. Things are looking up.

Now comfortable, he passes the time by reading the remaining letters aloud to the skeleton in a mocking voice. One letter, however, from a little boy moves him. The boy has lost his first tooth and he is writing to his grandfather to tell him.
 
Costner finds the little tooth in the envelope and examines it. The background music changes, signalling that something deep is happening in him. We. don't know what it is yet. Whatever is happening to him, he puts away the letters, turns on his side and enters into a sort of daydream.

The camera shifts and now we see with Costner's eyes as he reaches out to the dead postman across from him, touching the insignia on his hat: a postman riding a horse with the words, US Post Office Letter Carrier. His touch is reverent. He's in a new space.

Next scene, Costner dressed in the postman's uniform comes upon Pineview, a palisade town patrolled by suspicious armed guards. When challenged to identify himself, he introduces himself as a postman of a newly established US Post Office.

But the guards threaten to shoot him if he doesn't leave. With that he pours out his letters onto the roadway and begins to call out the names on the envelopes. None of them mean anything to the townspeople until the name 'Irene Marsh' provokes a response. From behind the palisade gate we hear Irene ask, 'Did he say my name? She's a blind old lady. Her daughter reads the letter aloud, news of her long-lost family. Irene's blind eyes light up in new hope.

'You're a godsend, a saviour,' Irene proclaims as she turns to thank Costner.

'I'm only the postman,' he replies in humble confusion. Hostility turns to welcome. He's no longer a threat but a hero, the bringer of good news and hope. For them he is 'The Postman'.

Putting the Tooth and the Pineview scenes together we get a wonderful parable on 'Call': Costner is called out of his darkness and despair when he least expects it.

Maybe his motives were still very mixed as he donned the postman's uniform. Nevertheless, he takes up his letter bag and follows the call, not knowing what mysterious journey he is beginning.

At the gates of Pineview he spins a yarn to get into the town to find food and shelter. What he doesn't know is that his words become true as he says them: without knowing it, he is indeed re-establishing the US Postal Service. But he needs Irene Marsh's response to name what is happening: he is being sent by God (godsend) to save this people (saviour). It takes a long time and many trials to accept his call fully. He has moved from pure self-interest to a generous sharing of his newly-discovered gifts of leadership.

Every genuine call has a First Tooth and a Pineview part to it. It begins with an inner movement of the spirit, and is confirmed by others from outside, a call from within and the call from without.

The Postman also shows how we can run from our true call, downplaying it with words like, 'I'm just the postman.' But a true call keeps coming back. It has a sense of destiny to it, something I have to do. It's an apparent contradiction, something I have to do, but freely.

The story of St. Ignatius, the founder of the Jesuits, is like the postman's. He too, hit rock bottom when his leg was smashed by a cannon ball. He too, had time to waste as he recovered over long months and took to reading, not letters, but books. He used to turn over to ponder what he had been reading and the desire arose in him to do great things for God. And with mixed motives, just like the Postman, he set out dressed in the clothes of a pilgrim.

His journey led him to the town of Manresa, where his call became clearer. There, some people recognized his gifts and encouraged him. For them he was a 'godsend', in a way, a 'saviour'. Though not knowing what exactly he was to do, he set out again, a journey which led him eventually to found the Jesuits (a band of men with a new way of serving God). He had discovered his gifts of leadership.

The Postman is about each one of us, for we are all called to move away from isolation and towards community. The Call transforms our love of little self into a love of Big Self. This New Self is what St. Paul referred to when he said, 'It is not I that lives, but Christ lives in me.'

In this Year of Vocation, let us pray that we might not be deaf to the Call.

This article first appeared in The Messenger (December 2008), a publication of the Irish Jesuits.

Wednesday, October 12, 2011

Hasil Diskusi Terbatas Memperingati 50 thn Hirarki Episkopal Gereja Katolik Indonesia


Para Rama Ytks
 
Saya sharingkan hasil diskusi terbatas tgl 12 Oktober 2011 di KWI, memperingati 50 tahun hirarki episkopal Gereja Katolik Indonesia sejak dikeluarkan Konst Apostolik "Quod Christus Adorandus" tgl 3 Januari 1961 oleh Paus Johanes XXIII. Kiranya beberapa poin refleksi di bawah ini bermanfaat bagi kita para imam selaku pembantu Hirarki Gereja Katolik.

1. Makna anugerah dengan dikeluarkan Konst Apost Quod Christus Adorandus adalah ssuatu pengakuan Takhta suci akan kesanggupan Gereja Katolik di Indonesia sanggup mandiri sebagai Hirarki. Artinya Gereja Katolik mampu menjamin kelangsungan keberadaanya, mampu menjalin komunikasi sebagai komunio umat beriman, mampu menjalankan karya misi ke dalam dan ke luar, mampu berkembang menjadi Gereja pribumi, mampu menjadi Gereja yang tidak terpisahkan dari masyarakat bangsa Indonesia.

2. Dalam konteks ini setelah 50 tahun kita ingin merefleksikan, mengevaluasi keberadaan kita sebagai Gereja Katolik terlebih sebagai Hirarki. Kitab Suci dan dokumen Gereja selalu menekankan sifat pengabdian/pelayanan hirarki; memperdalam makna hirarki dan mengusahakan perilaku yang sesuai dengan tuntutan zaman (Mgr Hadisumarto O.Carm)

3. Ada beberapa pokok yang perlu mendapat perhatian kita sebagai imam:
    a. Gereja sebagai komunio umat beriman kristiani tertahbis maupun tidak terhabis (klerus, awam, religius) hendaknya saling bekerjasama, bersinergi saling mendengarkan dan meneguhkan dalam panggilan serta misi Gereja Katolik. Hal ini ditekankan agar tidak terjadi hal berikut ini: "kita baik awam maupun pastor paroki dan para religius sama sama kerja tetapi belum bekerja bersama-sama. Mungkin para rama paroki mendengar persoalan hidup umat dan masayarakat tetapi belum mendengarkan, tahu tetapi belum mengetahui...." (hasil penelitian pendekatan kualitatif menggunakan teknik in depth interview dan group interview, presentasi Francisia SSE Seda, Ph. D). Tidak semua paroki di dalam melaksanakan kehidupan mengGereja termasuk pelayan pastoral Paroki memiliki metode dan proses komunikasi setara. Kesibukan pastor akibat multitasking mengakibatkan pelayanan kepada umat tidak optimal. Maka proses sinergitas dan komunikasi menjadi hal penting dalam membangun Gereja Katolik sebagai persekutuan umat beriman.

    b. Gereja Katolik yang semakin mengindonesia perlu menunjukkan keberpihakan. "Kalau Gereja dekat dengan orang miskin siapa saja akan datang, kalau Gereja hanya dekat dengan orang kaya orang miskin tidak akan datang". Kemiskinan disoroti oleh narasumber Ibu Sri Palupi khususnya wilayah Papua dan NTT dimana mayoritas umat katolik berada di wilayah tersebut. Para pastor hendaknya melihat situasi dan kebutuhan umat yang nyata (real need) bagaimana caranya mengentaskan kemiskinan, bagaimana umat bisa sehat dan dapat memperoleh pendidikan secara baik dan bermutu. Pendidikan penting bagi masa depan Gereja Katolik khususnya di Papua dan NTT perlu tindakan yang serius. Maka Ibu Palupi menekankan pentingnya solidaritas, adanya sense of crisis, bela rasa terhadap yang menderita, miskin, marjinal. Sejak seminari perlu dibina aspek solidaritas, belarasa, kepedulian terhadap yang berkekurangan. Menumbuhkan harga diri bahwa kita bisa keluar dari kemiskinan dan kebodohan. Kita bangun komunitas yang sadar adanya duka dan penderiaan umat.

    c. Kepemimpinan dalam Gereja Katolik, perlu adanya saling mendengarkan, mendukung dalam pelayanan pastoral yang berkarakter. Integritas pelayan pastoral mendapat tekanan dalam membangun Gereja Katolik yang mengindonesia (Rm Madya SJ: berpatoral seluas realitas kehidupan dengan penuh integritas), kepemimpinan yang partisipatif melibatkan semua pihak dan terlebih pastoral adalah karya Allah. Untuk itu perlu ada keseimbangan, menjadi pemimpin yang inspiratif demi menjawab kerumitan dan kesimpangsiuran zaman ini (P. John Prior SVD).

    d. Ecclesia Semper Reformanda (Gereja yang selalu membarui diri sesuai dengan tuntutan zamannya), ada dorongan agar para imam dan hirarki terbuka untuk melibatkan awam yang profesional dalam menjawabi tantangan zaman agar kehadiran Gereja sungguh terasakan bagi umat dan masyarakat. Maka perlu kerjasama antara hirarki dan awam. tempat hirarki tidak lagi di atas awam melainkan sejajar, setara sesuai ajaran KV II dan KHK 1983 (Gereja sebagai umat Allah). Agar Gereja relevan dan signifikan perlu usaha terus menerus karya katekese, pembinaan iman secara serius-kontinyu sejak usia dini hingga lansia. Menjadi katolik yang seratus persen dan warga negara Indonesia yang seratus persen perlu diperjuangkan terus menerus maka dokumen ASG, Nota Pastoral KWI, SAGKI perlu ada implementasi yang sungguh nyata bagi umat, bukan sekedar dokumen yang secara intelektual bagus tapi tindak lanjut, sampai ke akar rumput (KBG, umat di Lingkungan) tidak ada. Peran hirarki, pastor sangat penting dalam hal ini (perlu perhatian bagi pembina calon imam). Maka mari kita mulai dari diri kita sendiri, saat ini dan di sini kita berpijak melangkah menuju harapan cerah Gereja Katolik makin mengindonesia agar kerajaan Allah di bumi pertiwi sungguh terasakan.
 
salam hangat
Kusumawanta

Tuesday, July 26, 2011

Bakti Ring Para Sulinggih - Kewajiban Budaya Dan Imani Bagi Seorang Bali Katolik

Kata ‘sulinggih’ sangat akrab di telinga kita. Sebuah kata yang merujuk pada seseorang yang sangat dihormati. Orang Bali yang beriman Hindu pasti sangat akrab dengan kata ini. Sedangkan orang Bali Katolik yang dengan tekun mengikuti Pangastawa Panyuksema Agung (Doa Syukur Agung) pasti juga sangat sering mendengar kata Sang Sulinggih Aji (sebutan untuk Bapa Paus). Lalu, apa sesungguhnya makna sulinggih itu?

Makna Tradisional
Kata sulinggih berasal dari dua kata yakni ‘su’ dan ‘linggih’. ‘Su’ berarti ‘utama’ sedangkan ‘linggih’ berarti ‘kedudukan’. Arti harafiahnya adalah ‘kedudukan yang baik’. Dalam konsep relijius di Bali, sulinggih bermakna sebagai ‘kedudukan yang terhormat yang sangat suci dan sangat istimewa yang diperoleh melalui suatu persyaratan sasana (kode etik) yang ketat dan telah diberkati melalui suatu upacara pediksan yang suci’. Jadi, sesungguhnya sulinggih adalah jabatan kehormatan untuk seseorang yang disebut sebagai imam. Lalu siapa para sulinggih itu?

Dalam bidang keagamaan, masyarakat Bali dibagi menjadi dua: yakni walaka dan sulinggih.
·       Walaka adalah umat secara umum, dari yang benar-benar polos sampai yang sudah mewinten (upacara sederhana yang memberikan hak kepada seseorang untuk bergerak aktif menek tuwun di sanggah pemerajan dalam membantu para pemangku atau pranda dalam upacara). Betatapun seseorang telah mendapatkan posisi yang hebat dan terhormat dalam masyarakat, seperti undagi atau dalang atau pemangku, mereka tetaplah seroang walaka biasa.
·       Sulinggih adalah orang-orang yang terhormat yang karena telah medwijati berhak memimpin suatu upacara yadnya yang suci. Misalnya pandita, wiku, sadaka, pedanda, dll. Mereka telah mediksa dan telah menerima biseka kawikon menurut tradisi wangsanya, misalnya Ida Pedanda, Begawan, Rshi, Bujangga, Sri Empu, atau Jero Dukuh.

Lalu bagaimanakah tata cara seseorang untuk bisa menjadi sulinggih? Banyak orang yang memiliki suatu pemahaman yang keliru mengenai hal ini. Selama ini banyak orang mengira bahwa hanyalah kaum Brahmana saja yang boleh menjadi sulinggih. Ternyata ini tidak benar sepenuhnya. Di Bali ada banyak ‘warga’ atau ‘wangsa’. Masing-masing warga punya aturan tersendiri. Kaum ‘Tri wangsa’ memang manganut bahwa hanya kaum Brahmana yang boleh mediksa (Kemenuh, Manuaba, Keniten, Mas, Antapan). Tetapi, warga Pasek Sanak Sapta Resi atau Dukuh atau Senggu memiliki aturan lain lagi. Tetapi terlepas dari masalah warga atau wangsa itu, kunci pokoknya adalah orang itu harus mendapatkan ijin dari lembaga yang berwenang, kemudian telah mendapatkan ilmu keagamaan dari seorang ‘nabe’ atau ‘guru nabe’ (harus seorang sulinggih yang di-tua-kan). Dan sebelum medwijati, yang bersangkutan telah melewati suatu masa uji yang ketat sehingga dianggap mampu menjalankan sasana yang berat sebagai ‘perpanjangan tangan Ida Sang Hyang Widi Wasa’.

Ordination - Rm. Subhaga, SVD

Dwijati
Di atas telah disebut istilah dwijati. Apa itu Dwijati? Dwi berarti ‘dua’, jati berarti ‘sungguh’, ‘benar’, ‘sejati’. Mari kita lihat maknanya. Sebelum mediksa, beliau tetaplah seorang walaka biasa, walaupun telah menjadi calon diksa (akan ditahbiskan). Setelah dianggap lulus dengan semua ilmu keagamaan yang diajarkan oleh guru nabe, beliau harus mempersiapkan diri untuk mediksa. Ada begitu banyak upacara dan upakara yang harus disiapkan dan dilakukan oleh seorang calon sulinggih. Dari semua itu, sang calon diksa juga harus melewati dua upacara penting berikut ini:

·       Upacara Amati Raga
Secara harafiah berarti ‘mati fisik’. Dalam upacara ini calon diksa harus melewati semua rangkaian upacara ‘kematian’ layaknya upacara untuk jenazah, kemudian beliau dikurung dalam suatu bilik tertutup selama tiga hari (ngekeb). Ini melambangkan keduniawian sang diksa ‘dimatikan’. Sejak ini beliau harus meninggalkan semua ciri-ciri kemanusiaannya dan tidak pernah boleh melakukan hubungan seksual lagi.
·       Upacara Amati Aran
Secara harafiah berarti ‘mati nama’. Setelah mediksa, seorang sulinggih harus mengganti nama walaka-nya dengan gelar biseka kawikon yang layak disandang oleh warganya atau wangsanya. Ini sebuah kehormatan besar yang tidak ternilai. Contoh biseka kawikon: Ida Pedanda Gede Simpangan, Jero Dukuh Peguyangan, Sri Empu Pandia, dan lain sebagainya.

Setelah melewati kedua upacara penting di atas ini (amati raga dan amati aran), sang diksa telah dianggap me‘dwi-jati’ yang artinya ‘memiliki dua kejatian diri’ atau ‘mengalami kelahiran dua kali’. Pertama, dia memang sungguh telah lahir sebagai manusia biasa dengan nama walaka biasa. Kedua, setelah amati raga dan amati aran, beliau menerima biseka kawikon, berarti beliau telah lahir kembali dengan jabatan sangat terhormat sebagai manusia baru yang telah disucikan. Sejak itu beliau telah menjadi sulinggih.

Dalam rangkaian upacara pediksan itu, ada suatu upacara yang sangat mengharukan ketika sang calon diksa menunjukkan kesetiaannya kepada guru nabe yang telah membimbingnya sampai lulus. Di situ sang calon sulinggih membersihkan kaki sang guru nabe dan menciuminya. Nampak sekali adanya rasa bakti yang dalam dari seorang murid kepada gurunya; sebaliknya nampak suasana penuh kasih dari guru kepada muridnya.

Tugas Sulinggih
Tugas utama sulinggih adalah ‘muput’ upacara yadnya. Beliau adalah satu-satunya pihak yang berhak membuat ‘tirta pamuput’ - air suci yang sangat penting dalam menyempurnakan dan menutup (muput) suatu upakara. Di sinilah letak tugas suci utama yang beliau terima dari Hyang Pramakawi.

Selain bertugas memimpin upacara agama, beliau juga punya kuasa mengajar. Oleh karena itu Griya (rumah tinggal sulinggih) selalu menjadi tempat bertanya. Umat sisia selalu datang ‘nangkil ka Griya’ untuk menanyakan hari baik untuk mengerjakan suatu upacara; atau bisa juga menanyakan ‘unggah-ungguh’ suatu upacara. Jadi, seorang sulinggih, selain ahli agama, pastilah seorang ahli pawukon (ilmu perhitungan hari baik atau buruk). Namun, walaupun memiliki kuasa mengajar agama, seorang sulinggih tidak mengajarkan agama dalam upacara yadnya karena dalam tradisi Hindu darta wacana (homili) tidak menjadi bagian dari upacara agama. Karena posisinya yang suci, seorang sulinggih pun tidak mengajar sekolah umum karena guru di sekolah umum adalah pekerjaan kaum walaka.

Kasih Sulinggih Dan Bakti Sisia
Setelah menjadi sulinggih, beliau harus bersikap sebagai orang tua yang mengayomi semua sisianya. Sebagai bukti kesuciannya, seorang sulinggih pasti relijius, lemah lembut, tidak gampang marah, tidak berkata ceplas-ceplos, tidak lagi duduk-duduk di tempat yang tidak layak, tidak lagi melakukan tindakan-tindakan yang biasa dilakukan oleh walaka, dan lainnya. Bahkan beliau bersikap begitu terhadap semua orang kendatipun bukan sisia ataupun umat dari agama lain bahkan terhadap segala mahluk hidup.  Karena kesucian posisinya, seorang sulinggih selalu memanggil ‘cening’ (anak) kepada segenap umatnya. Sebuah sapaan yang penuh dengan rasa kasih sayang. Sebaliknya seorang sulinggih pria akan menyebut dirinya ‘bapa’ (bapak) dan seorang sulinggih wanita (atau istri sulinggih) akan menyebut diri beliau sebagai ‘meme’ (ibu) ketika berbicara dengan umatnya. Sebuah kerendahan hati yang sangat dalam. Walaupun beliau begitu rendah hati, sebaliknya semua warga sisia tidak boleh memanggil beliau dengan sebutan ‘bapa’ atau ‘meme’, namun selalu dengan bahasa yang paling terhormat misalnya ‘Ratu Pranda’, ‘Jero Dukuh’, atau ‘Ratu Sri Empu’, dan lainnya. Ini sebuah bentuk sikap bakti yang sangat mendalam dan sama sekali bukan sikap feodal. 

Mengikuti konsep Tri Rna, setiap manusia pada hakikatnya berhutang rohani pada tiga pihak, salah satunya adalah utang rohani pada para imam sulinggih (disebut Rsi Rna). Utang ini terjadi karena tugas pelayanan pada manusia di bidang kerohanian yang beliau emban yang tidak bisa digantikan oleh manusia biasa. Tentu utang ini tidak bisa dihitung dengan uang! Inilah yang menjadi dasar penting mengapa umat wajib berbakti pada beliau. Perwujudan bakti itu bisa dilakukan dengan berbagai cara. Misalnya, kita menggunakan bahasa Bali yang paling sempurna; tidak pernah membelakangi sulinggih, kemudian ketika menjemput seorang pranda digunakan istilah ‘mendak Pranda’; membawa alat-alat persembahyangan yang menjadi perlengkapan beliau pun dilakukan di atas bahu atau kepala; atau ketika menyajikan makanan (setelah upacara) digunakan ‘dulang sukla’ yang khusus. Apa pun yang dikatakan seorang sulinggih diyakini sebagai bagian dari pawisik Ida Sang Hyang Pramakawi. Jadi, pendek kata di mata orang Bali, sulinggih itu sangatlah terhormat dan dibaktikan di pabahan.

Hak Sosial Sulinggih
Melihat begitu mulianya status sosial beliau, lalu apa hak-hak sosial seorang sulinggih di masyarakat? Pertama, seseorang yang telah mediksa berhak luput atau bebas dari segala ayah-ayahan di banjar atau desa. Kedua, di semua tempat yang memerlukan penyebutan nama, beliau hanya boleh dipanggil dengan biseka kawikonnya saja. Nama walaka telah hilang. Ketiga, konon sesungguhnya seorang yang telah mediksa itu kebal hukum alias tidak boleh diperiksa aparat kepolisian! Apabila ada suatu sangkaan atau dugaan bahwa yang bersangkutan melakukan tindakan kriminal, maka yang berhak melakukan investigasi hanyalah guru nabenya. Jika ditemukan bahwa memang yang bersangkutan bersalah, maka dia harus melepaskan kawikuannya dan kembali menjadi walaka biasa dengan segala resikonya (termasuk dipidana). Biasanya seorang sulinggih yang dianggap telah mengkhianati sesananya (entah karena berbuat kriminal, berzinah, lupa akan darma dan tatwa, dll), beliau tidak dicaci maki oleh umat tetapi akan ditinggalkan diam-diam oleh umatnya sehingga dia akan menjadi ‘sulinggih tan pasisia’ (sulinggih yang tidak punya umat).

Nyumuka
Bolehkah seorang walaka biasa mengerjakan pekerjaan sulinggih? Sama sekali tidak! Jika ada walaka yang berani melakukan hal itu, maka dia dianggap telah melakukan perbuatan ‘nyumuka’ yakni tindakan pidana keagamaan dengan sengaja melakukan tugas suci sulinggih secara tidak berhak. Sebagai contoh: tanpa hak menggunakan biseka kawikon, tanpa hak memakai wesa sulinggih, tanpa hak berani ‘muput’ karya, dan lainnya. Apa hukumannya? Konon, sekali lagi konon, pada jaman kerajaan Hindu dulu, seorang pelaku nyumuka diancam dengan hukuman ‘kalebok ring segara’ (mati dengan cara dibenamkan ke laut)! Mengapa begitu keras? Karena tindakan nyumuka dianggap ‘ngawe teraking bhuwana’ yakni membuat dunia ini ‘terak sayah’ (ditimpa malapetaka). 

Para Imam yang Berkarya di Bali

INKULTURATIF KATOLIK
Suka atau tidak, kebiasaan bakti pada sulinggih ini tentu kita warisi dari para leluhur kita dan mengalir deras dalam nadi kita. Sebagai bakti kita pada para leluhur kita, maka kebiasaan yang mulia ini wajib kita pertahankan, tentu dalam perspektif iman yang baru. Di desa Buduk ada banyak Geria. Umat Katolik Buduk sampai kinipun tetap menunjukkan sikap hormat bakti kepada para sulinggih yang ada di sana. Bukankah para sulinggih itu cerminan kasih Tuhan bagi semua umat manusia? Ini tentu contoh sikap kesaksian iman yang sangat mulia. Tetapi, setelah kita menjadi Katolik, nilai-nilai apa sajakah yang bisa kita pertahankan? Setelah kita pelajari, paling tidak ada tujuh pemikiran yang perlu kita berikan perhatian, yakni:    

1. Asal Sulinggih
Karena agama Katolik itu mendunia, menembus batas wilayah ruang dan waktu, maka imam Katolik itu pun berasal dari mana saja, tidak peduli dari golongan, suku atau bangsa mana pun. Tuhan yang memanggil dan memilih mereka. Maka, semua harus kita hormati sebagai sulinggih dan kita baktikan di pabahan kita. Sebagai contoh adalah kisah berikut ini. Suatu kali Bapak I Gusti Ngurah Rai Suneca, seorang tokoh Hindu dari Banjar Pendem, Dalung, dalam suatu kesempatan memberikan sambutan, beliau menyebut ‘Ida Romo Rai Sudhiarsa’ kepada Romo Dr. Ray Sudhiarsa, SVD. Betapapun beliau tahu bahwa Romo Rai lahir dari keluarga sudra wangsa, beliau tetap dengan rendah hati menambahkan kata ‘Ida’ di depan nama Romo Rai. Tentu ini sebuah sikap penghormatan yang paling tinggi padahal Bapak Rai Suneca sendiri beriman Hindu dan berasal dari keluarga ksatria wangsa. Kita pun harus bisa seperti itu yakni menghormati sulinggih kita dengan benar. Kuncinya adalah kita harus percaya bahwa ‘imam itu terhormat karena telah dipanggil, dipilih dan dikuduskan oleh Tuhan sendiri’.

2. Konsep Amati Raga
Gereja tidak akan mungkin melaksanakan Misa Requiem bagi calon imamnya sebelum beliau ditahbiskan! Mengikuti teladan Sang Guru, imam Katolik secara nyata dan bersungguh-sungguh justru melakukan amati raga dengan melakukan ‘pengingkaran diri’ berikut ini sepanjang hidupnya:
·       Imam Katolik melakukan pengingkaran diri dengan tidak berkeluarga tetapi mempersembahkan hidupnya untuk orang lain demi Kabar Gembira Kristus (Mrk 10:29-30). Imam Katolik bukan sekedar menjadi brahmacarya tetapi bahkan melaksanakan kaul ‘sukla brahmacarya’ - tidak berkeluarga dan suci murni dari hal-hal badani sejak masa mudanya (Mat 19:12, 1Kor 6:20, 1Tes 5:23).
·       Imam Katolik melakukan pengingkaran diri dengan secara total memenuhi hidupnya dengan doa puja pangastawa sehingga mampu lepas dari keduniawian dan kemudian hidup suci hati dan suci dalam tingkah laku (1Ptr 1:15, 1Ptr 2:5, Rm 12:1).
·       Imam Katolik melakukan pengingkaran diri dengan ‘mati’ atau ‘miskin’ dari hal-hal barang duniawi. Mati atau miskin di sini lebih bermakna sebagai ‘tidak membiarkan diri tergantung’ pada barang-barang duniawi karena kita semua tidak bisa melakukan apa pun tanpa dukungan materi yang cukup (Mat 10:9-10, Luk 10:4.8, Mrk 10:21, Gal 5:24).
·       Imam Katolik pasti ‘pradnyan’ karena haus akan ilmu pengetahuan dan karena itu mereka harus melewati masa pendidikan yang sangat panjang (Mzm 119:66, Ams 2:6, Ams 12:1, Ams 15:2.7.14, Kol 2:3).
·       Imam Katolik melakukan pengingkaran diri dengan selalu taat kepada Uskup selaku penerus pemegang amanat para rasul dan juga kepada atasannya (ordo tempatnya bernaung), tanpa pernah memperhitungkan kepentingan pribadinya sendiri (Luk 4:43, 1Ptr 1:2, Luk 10:3, Mat 16:18, Mrk 1:38, 2Kor 4:11). Imam yang tidak taat pada titah Uskup secara otomatis telah mengeluarkan dirinya sendiri dari sistem dan struktur kegembalaan Gereja Katolik.

Semua hal di atas inilah yang menjadi sasana bagi para imam kita. Itu pasti sangat berat dan sulit dilakukan oleh kemampuan manusiawi kita. Namun di hadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa tidak ada hal yang tidak mungkin (Mrk 10:27).

3. Konsep Amati Aran
Dalam tradisi Katolik, seorang Paus pasti mendapatkan panugrahan ini. Misalnya ‘Petrus’, Paus yang pertama, adalah biseka kawikon yang langsung dianugerahkan oleh Ida Hyang Yesus kepada Simon anak Yohanes (Yoh 1:42, Mat 16:18). Lalu ‘Yohanes Paulus II’ adalah biseka kawikon yang dipilih oleh Karol Wojtyla. Dan sekarang  ‘Benediktus XVI’ adalah biseka kawikon yang dipilih oleh Kardinal Joseph Ratzinger. Baik ‘Simon’, ‘Karol Wojtyla’ ataupun ‘Joseph Ratzinger’ meninggalkan nama aslinya ini (amati aran atas nama asli itu) tetapi kemudian memakai biseka kawikon itu sampai akhir hayat beliau.

Tetapi kalau diamati, dalam perkembangan sejarah penginjilan di Bali, ada dua imam yang menerima nama baru setelah ditahbiskan. Beliau adalah Romo Servatius Subhaga SVD yang bernama asli I Nyoman Rongsong dan Romo Pancratius Mariatma SVD yang bernama asli I Made Pagi. Suatu kali dalam suatu percakapan dengan saya di depan Pastoran Tuka, Romo Subhaga SVD mengatakan bahwa nama beliau dan nama Romo Mariatma SVD itu diberikan oleh Alm. Ida Cokorda Oka Sudharsana. Dalam hati saya bertanya, bukankah ini sikap inkulturatif yang sangat kuat yang ditunjukkan oleh Ida Cokorda? Sebagai seorang keturunan raja Ubud, beliau tahu betul bahwa karena I Nyoman Rongsong dan I Made Pagi telah menerima panugran pediksan maka keduanya sangat layak untuk mendapatkan suatu biseka kawikon. Tentu ini sebuah keputusan budaya yang sangat tepat dan sempurna.

‘Subhaga’ berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti “dia yang terberkati” atau “dia yang sangat beruntung”. Di Bali juga ada suatu ungkapan “subhaga wirya siniwi” yang bermakna ‘yang termasyur karena berani’. Dan memang benar, bahwa I Nyoman Rongsong adalah putra Bali pertama yang sangat beruntung karena berani untuk ‘diubah’ oleh Kristus dan kemudian boleh menerima panugran pediksan Katolik yang sangat mulia itu. Luar biasa bukan? Kemudian, setelah mengumpulkan beraneka informasi, saya menyimpulkan tiga makna untuk kata ‘Mariatma’ yakni: Maria Atma, Marya Atma atau Ma(r)i Atma. Bapak I Gusti Putu Oka dan Bapak Ketut Karepek mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Maria Atma adalah ‘dia yang berjiwa Maria’. Lalu kata Marya berasal dari bahasa Arab yang berarti ‘purity’ atau ‘bright whiteness’. Jadi Marya Atma bermakna ‘jiwa yang putih murni atau suci’. Kemudian Ma(r)i Atma atau Mai Atma berarti ‘datanglah wahai jiwa’. Inilah makna Kristus yang haus akan jiwa-jiwa yang bertobat. Di salib Yesus bersabda, “Aku haus.” (Yoh 19:28). Juga Dia pernah berkata kepada wanita Samaria, “Berilah aku minum.” (Yoh 4:7). Bukankah salah satu tugas suci para imam adalah menghantarkan jiwa menuju pertobatan? Jadi, ketiga makna ‘mariatma’ ini bermakna sangat tinggi.

Nama besar ‘Subhaga’ maupun ‘Mariatma’ adalah dua biseka kawikon yang luar biasa yang menjadi kebanggaan kita semua. Namun, sangat disayangkan tradisi biseka kawikon yang dirintis oleh Almarhum Ida Cokorda Oka Sudharsana tidak dilanjutkan untuk imam-imam yang selanjutnya.

4. Imam adalah Guru
Sebagai orang Bali, kita punya konsep catur guru; salah satunya adalah Guru Swadyaya. Tuhan adalah Sang Maha Guru (Ayub 36:22). Kristus sebagai Putra Allah adalah Sang Guru (Luk 9:33. Luk 17:13, Yoh 13:13.14, dll). Maka sebagai ‘alter Christus’, imam tentulah guru dan umatnya adalah muridnya. Guru selalu menjadi teladan. Imam melakukan pengingkaran diri dengan menjadi teladan bagi umatnya (Mrk 1:17, Yoh 12:46, 1Kor 11:1). Sedangkan umat punya kewajiban imani untuk mendengarkan dan mengikuti imamnya. Ini tentu saja tugas yang sangat berat, jauh lebih berat dari jabatan sebagai guru biasa. Di Bali, biasanya sulinggih yang hidupnya sudah tidak karu-karuan alias tidak bisa digugu dan ditiru lagi, diam-diam akan ditinggalkan oleh umatnya, sehingga dia menjadi sulinggih tan pasisia. Sebagai manusia, umat Katolik pun bisa saja meninggalkan imamnya yang hidupnya sudah lepas dari rel-rel yang telah dijanjikannya sendiri ketika menerima sakramen Imamat dari Tuhan. Sekali lagi, imam sebagai guru adalah contoh dan suri teladan bagi umatnya!

5. Imamat Yang Suci
Karena Imamatnya yang suci, hidup pribadi seorang imam menyatu dengan sakramen. Beliau bukan petugas pemberi sakramen, tetapi beliau adalah bagian tidak tergantikan dari sakramen itu sendiri. Imamatnya yang kudus menyatu dan melebur dengan pribadi imam itu. Karena kemuliaan dan kesucian imamat yang diemban para imam itu, oleh kuasa Roh Kudus dan sabda Kristus yang diucapkannya, maka roti dan anggur berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Dan melalui sakramen tobat, imam juga karena imamatnya yang kudus, punya kuasa untuk melepaskan seseorang dari jerat dosa (Mat 18:18, Mat 16:19). Tugas ini  sangat mulia dan tak tergantikan. Nilai ini tentu tidak ada dalam paham tradisional.

Romo Shadeg & Para Frater

6. Posisi Sosial Masyarakat
Dalam tradisi kita, karena kemuliaannya itu, semua imam kita luput dari ayah-ayahan di banjar atau pemaksan. Tetapi ada suatu pergeseran yang kuat dalam cara memanggil imam kita. Kita memanggil mereka dengan sebutan “Romo”. Ada nuansa keakraban yang sangat kuat, sikap sangat rendah hati dan sikap memposisikan diri sebagai ‘bapak’ yang penuh cinta kepada setiap umatnya. Untuk itu umat harus menghormati beliau sebagai ‘yang terhormat’; dan jangan pernah memperlakukan beliau sebagai kawan biasa. Janganlah beliau dengan enteng dipanggil, “Hai, Mo, …pagi…”  

7. Konsep Nyumuka dan Rsi Rna
Walaupun gereja tidak pernah mengungkapkan bahwa umat memiliki utang rohani pada imam, tetapi sesungguhnya konsep ‘nyumuka’ ini sangat kuat dalam kehidupan menggereja kita. Buktinya? Gereja Katolik sangat mengharapkan partisipasi awam dalam kegiatan menggereja; akan tetapi Gereja juga dengan tegas telah memberikan panduan mengenai wewenang bagi awam yang memiliki kehendak baik untuk mengabdikan hidupnya bagi gereja. Intinya, betapapun awam memiliki keinginan yang mulia, awam tidak boleh mengambil tugas para imam. Hanya imam karena imamatnya yang mulia yang berhak dan boleh memberikan pelayanan sakramen. Contoh sederhana: dalam Ekaristi kita bisa melihat dengan tegas hal-hal yang hanya boleh diucapkan, didaraskan dan dilakukan oleh Imam. Kesimpulannya umat tidak boleh ‘nyumuka’! Oleh karena itu, sebagai orang Bali, ada suatu konsekuensi budaya yang patut kita akui bahwa ada suatu ‘utang’ rohani yang tak terhitung nilainya yang dimiliki oleh umat pada para imamnya (Rsi Rna).  

Tugas Umat
Dari pemaparan di atas, jelas kita bisa melihat betapa mulianya seorang imam Katolik. Dalam diri imam itulah hadir kurnia imamat ilahi yang sangat mulia. Kurnia imamat tak terpisahkan dari imam yang menerimanya karena imamat itu kekal hadir dan melebur dalam diri seorang yang telah ditahbiskan. Mengingat mulianya kurnia ini, maka Alm. Ida Cokorda Oka Sudharsana, juga Alm. Pan Paulus dari Batulumbung, selalu menyebut Uskup dengan sebutan Ratu Pedanda. Dalam beberapa kesempatan pribadi, saya pun menggunakan istilah Ratu Peranda kepada Yang Mulia Mgr. Sylvester San Pr. Ungkapan Ida Pedanda juga sering dipakai oleh Pak Alex Nyoman Gunarsa ketika menyebut nama almarhum Romo N. Shadeg SVD. Semua ini membuktikan tingginya kemuliaan imamat di mata orang Bali.

Tugas keimamatan sangatlah sulit dan penuh dengan tantangan. Oleh karena pentingnya posisi imam dalam mendekatkan umat pada Kristus, maka setan punya kepentingan besar untuk menjatuhkan seorang imam. Dan setan tidak akan pernah berhenti tetapi akan terus menyerang dengan menggunakan segala macam jebakan: dari materi yang paling indah, dari bibir yang manis, dari yang lemah gemulai, sampai metode jebakan yang paling kasar sekalipun. Imam harus selalu siap menghadapi ini semua dengan waspada. Umat pun harus waspada akan hal ini dan siap membela imam dari godaan setan seperti ini.

Para imam kita telah mengurbankan hidup mereka bagi Tuhan dan tentu bagi kita. Untuk itu umat Katolik wajib mencintai dan menghormati imamnya. Kita adalah sisia yang menjadi domba gembalaan mereka, maka kita wajib mendukung beliau dengan menjaga kehormatan beliau dan bukan malah menggerogotinya! Mencintai imam sama sekali tidak berarti harus mati-matian ‘mengikat’ beliau untuk tinggal di satu paroki atau siap adu otot untuk mempertahankan beliau di situ. Justru umat harus mendukung seorang imam untuk menjadi semakin besar. Kalau beliau memang sudah harus pindah tugas, maka umat harus mendukung beliau untuk tunduk pada titah Uskup dan bukan justru mengompori beliau untuk melawan titah tugas itu. Kita harus mencintai beliau untuk semakin mencintai imamat yang telah beliau terima.

Semoga kita semua mempertahankan tradisi bakti pada imam ini sebagai bagian dari semangat untuk meningkatkan kualitas iman keKatolikan kita kepada Kristus. Sangatlah indah kalau ini menjadi ciri keBalian orang Bali Katolik. Pada akhirnya, akan lebih hebat lagi seandainya semua umat bisa meniru kehidupan suci para imam kita seperti dipaparkan di atas. Jika ya, maka tentu saja kehidupan menggereja akan sangat luar biasa. Semua imam akan sangat berbahagia karena tugas mulia beliau untuk mengemban umat menuju Sang Gembala Agung Kristus telah tercapai sempurna.

Saya menulis ini sebagai perwujudan bakti, hormat dan cinta saya kepada para imam kita yang telah mengurbankan hidup mereka bagi kita semua.

Semoga bermanfaat.


I Gusti Ngurah Bagus Kumara
(Sumber: Majalah Bulanan Keuskupan Denpasar "AGAPE" edisi Mei-Juni 2011)