We sing our committed life ever since the very beginning of our age. We wrote our memories of this place, drew our faces in every corner of its building. We long to go back for that memories and path. Committing to a particular path in life comes more easily when you know what you're committing to and who or what will support you along the way. It's the
beauty of being a SEMINARIAN.

FUND RAISING JAKARTA - 28 & 29 JULY 2012

Sabtu, 28 Juli 2012 sore dan Minggu, 29 Juli 2012, Rm Deni akan memimpin misa 5 kali di Paroki Santa Perawan Maria Blok Q, dan Rm Tanto 4 kali misa di Paroki Aloysius Gonzaga Cijantung Jakarta. Mohon doa dari semua teman sekalian supaya lewat kegiatan ini Seminari Tuka diberkati dengan limpah.

Selamat akhir pekan.

Terima kasih

Saturday, July 28, 2012 (afternoon) and Sunday, July 29, 2012, Rm Deni will lead the mass (five times) in the Parish of the Blessed Virgin Mary Block Q, and Rm Tanto (four times) in the Parish of Aloysius Gonzaga at Cijantung Jakarta. Expecting prayers from all friends so this activity may bring abundant blessings for Seminary Tuka.

Happy weekend.

Thank you

Search This Blog

Gerakan Orang Tua Asuh Seminari Tuka Bali

Gerakan Orang Tua Asuh Seminari Tuka Bali
Let's Participate! Contact: seminaritukabali@gmail.com

Thursday, February 23, 2012

No Lies, but Truth ??

"A lie may take care of the present, but it has no future - unknown author"


Tulisan Sindunata yang dimuat pada harian Kompas hari ini sangat menarik. Mengupas dalam, mengkritisi secara tajam dan memaparkan kemuakan yang dirasakan terhadap pertunjukan kebohongan para birokrat yang sedang tayang akhir-akhir ini.


Seandainya sosok pinokio bisa menjelma dalam karakter-karakter tersebut, maka akan sangat menarik melihat wajah-wajah menawan dengan hidung panjang setiap kali kebohongan terucapkan. 


Berikut kutipannya:
Bohong! Kata inilah yang sekarang sedang naik daun. Memang, rakyat sedang muak dengan ”drama kebohongan”, di mana aktor dan aktrisnya adalah politikus-politikus yang nuraninya sudah bebal terhadap kebenaran.
Lah, wong rakyat kecil dan anak-anak saja tergila-gila ingin memiliki Blackberry (BB), bagaimana mungkin orang percaya bahwa seorang pesohor dan legislator sekelas Angelina Sondakh mengaku tak memiliki Blackberry sebelum akhir 2010?
Bagaimana kita tidak gemas ketika dalam sidang perkara korupsi wisma atlet dengan terdakwa Muhammad Nazaruddin, Rabu (15/2), Angelina Sondakh sebagai saksi dengan enteng terus menyangkal semua fakta yang menunjukkan keterlibatannya.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memiliki bukti rekaman pembicaraan Angelina dengan Mindo Rosalina melalui BBM (perpesanan dengan BB). Ketika bukti itu disinggung, Angelina kembali menyangkal, mengaku tak mengenali pembicaraan tersebut. Saking jengkelnya, pengacara Nazaruddin, Hotman Paris Hutapea, mencemooh, ”Apa hantu yang mengirim BBM ini?”
Angelina juga mengaku tak paham kode-kode permintaan uang kepada Mindo seperti ”apel malang”, ”apel washington”, dan ”semangka”. Padahal, menurut Mindo, kode-kode itu jelas-jelas digunakan dalam percakapan mereka.
Seperti Angelina, Mahyudin, politikus Partai Demokrat dan Ketua Komisi X DPR, juga menyangkal keterlibatannya. Terhadap pertanyaan majelis hakim, jaksa, dan pengacara, Mahyudin—yang juga Guru Besar Universitas Sriwijaya itu—menjawab, ”Tidak tahu, lupa, atau tidak ingat.”
Alasan lupa adalah ia pernah terserang stroke. Dalam pertemuan dengan Andi Mallarangeng, Nazaruddin, dan Angelina Sondakh, yang ia ingat adalah makanan udang. ”Katanya stroke, tetapi malah ingat udang.” ”Masa orang yang lupa dipercaya jadi pemimpin komisi DPR.” Lagi-lagi, begitu cemooh Hotman Paris Hutapea.
Kita tentu masih harus menunggu hasil sidang lanjutan perkara Nazaruddin. Semua orang tahu, perkara ini sarat muatan politik. Tak heran jika mereka yang berkepentingan mengatur mekanisme begitu rupa agar skandal politik yang lebih besar tidak terbongkar. Rakyat yang paling sederhana pun tahu, perkilahan Angelina Sondakh dan kelupaan Mahyudin adalah bagian dari mekanisme kebohongan itu.
Kanker ganas
Di mana-mana politik memang tak bisa terpisahkan dari kebohongan. Kebenaran sulit menjadi kriteria politik karena politik memang tidak berkenaan dengan kebenaran, tetapi dengan naluri mempertahankan dan memperbesar kekuasaan. Itulah yang dibahas filsuf politik Hannah Arendt dalam bukunya Wahrheit und Lüge in der Politik—Kebenaran dan Kebohongan dalam Politik (1971).
Menurut Arendt, politik bergerak sedemikian rupa sehingga mendepak kebenaran. Politik menjadi sekadar upaya mempertahankan kekuasaan malah cenderung jadi permainan. Hakikatnya adalah ”Who get What, When, How”.
Machiavelli lebih realistis lagi. Menurut dia, seorang penguasa boleh mengingkari janjinya apabila janji itu ternyata merugikannya dan apabila tiada lagi alasan untuk tetap berpegang teguh pada janjinya. Jika semua manusia adalah baik, usul itu keliru. Namun, berhubung manusia tidak baik dan tidak bisa memegang kata-katanya sendiri, penguasa juga tidak perlu berpegang pada kata-kata yang dijanjikan. Juga apabila belum ada alasan yang benar secara hukum, penguasa bisa saja menutupi ingkar janjinya dengan kebohongan.
Kita boleh tidak setuju dengan pendapat Machiavelli itu. Namun, jika kita terima sebagai sinisme terhadap kekuasaan, pendapat itu akan membuat kita realistis terhadap fakta bahwa kekuasaan tak lepas dari kebohongan. Kata Machiavelli, kekuasaan terkait dengan kodrat manusia yang suka bohong.
Memang, bohong, kebohongan, dan pembohongan telah menjadi bagian dari hidup manusia. Tak ada larangan yang begitu sering dilanggar seperti larangan jangan berbohong. Di dunia ini ada manusia yang tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berselingkuh, tetapi tak pernah ada manusia yang tak berdusta atau berbohong. Maka, kata novelis dan esais Jean Paul, bohong adalah kanker ganas di bibir hati terdalam manusia. Kata penyair Heinrich Heine, kebohongan bahkan bisa menyelip ke dalam ciuman dan kepura-puraan, membuat kepura-puraan dan penipuan menjadi nikmat dan manis.
Oli kebohongan
Kebohongan bisa menyelip ke mana-mana, apalagi ke dalam politik. Itulah yang sesungguhnya kita alami sekarang ini. Politik kita memang sedang bermantelkan kebohongan. Meminjam kata-kata sutradara teater dan esais di Paris dan Berlin, Benjamin Korn, politik kita bagaikan mesin yang olinya adalah kebohongan. Dalam politik macam ini, para politikus tidak lagi berpikir tentang rakyat, tetapi hanya bagaimana meningkatkan kerakusan dan berahi kekuasaan. Caranya dengan mempraktikkan kebohongan.
Kalaupun relasi politik kelihatan lancar, itu bukan karena para politikus menepati norma dan etika kebenaran, melainkan karena hubungan itu dilumasi terus dengan oli kebohongan. Sekali pelumasan kebohongan berhenti, mesin politik akan macet. Jika macet, mesin politik hanya merugikan. Maklum, politik kita berjalan tidak semata-mata untuk mempertahankan kekuasaan, tetapi juga memanfaatkan kekuasaan untuk mengumbar nafsu ketamakan akan harta dan uang.
Maka, roda gila kebohongan bergerak semakin cepat, sampai kita tidak kuasa lagi mengeremnya. Kita diseret untuk hidup dalam sistem kebohongan. Kita pun tertipu dan terjerat total oleh kebohongan itu sampai kita seakan tak dapat lagi keluar. Kita jengkel, tetapi tak tahu mana jalan keluar. Lama-lama kita juga terninabobokkan oleh kebohongan itu. Itulah mungkin maksud Henrich Heine ketika ia bilang, ”Penipuan itu manis, tetapi ketertipuan lebih manis lagi rasanya.”
Itukah yang terjadi ketika kita menyaksikan sidang yang menghadirkan saksi Angelina Sondakh? Kita jengkel mendengar kilahnya, tetapi seperti masokis yang suka disakiti, kita menikmatinya juga. Rasanya seperti ketika kita jengkel dan muak dengan segala superfisialitas kontes putri ayu Indonesia, tetapi toh kita menikmati peragaan kecantikan dan kemolekannya.
Ibu segala dosa
Kebohongan memang sulit diberantas. Filsuf Imannuel Kant mengibaratkan kebohongan bagaikan kayu bengkok, tidak mungkin ditukangi untuk diluruskan.
Kalau demikian, mestikah kita membiarkan saja kebohongan? Sama sekali tidak. Sebab, kata Kant, pembohong dan kebohongannya telah melukai, menistakan, dan meniadakan martabat manusia. Lebih lanjut, ujar Kant, juga jika terjadi dengan maksud baik, kebohongan akan mengakibatkan ketidakpercayaan dalam masyarakat. Dengan jatuhnya ketidakpercayaan, roboh pula sendi-sendi hukum. Kemanusiaan akan menderita karenanya. Bohong itu merugikan, tidak hanya karena merugikan orang lain, tetapi juga karena ia mengeringkan sumber-sumber hukum.
Tak usah kita berguru kepada pemikir Barat untuk mengutuk kebohongan. Guru bangsa kita, Prof Dr Hamka, sudah mengulas habis kebohongan dalam bukunya, Bohong di Dunia (cetakan III, 1971). Hamka mengulas apa itu kebohongan; bagaimana sikap agama-agama Nasrani, Yahudi, dan Islam terhadap kebohongan; bohong dalam ilmu jiwa; dan pendapat para filsuf, Aristoteles, Rosseau, dan Stanley Hall, tentang kebohongan.
Dalam pengantar buku tersebut—ditulis di Bukittinggi tahun 1949—Hamka mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, ”Dusta adalah ibu daripada segala dosa.” Hamka prihatin, betapa pada waktu itu kebohongan sudah bersimaharajalela dan betapa karena kebohongan, bangsa ini tetap melarat dan tidak bisa maju.
Menurut Hamka, pada fitrahnya, manusia sesungguhnya adalah benar dan jujur. Suara hati yang asli adalah jujur dan tidak mau berbohong. Keadaan lain yang datang tiba-tiba memaksa manusia menempuh jalan bohong. Lalu, diberikannya gambaran tentang kebenaran. Gambaran Hamka tentang pentingnya kebenaran dan seruannya untuk melawan kebohongan ini harus tetap berkumandang:
”Cobalah menoleh ke mana saja pun tuan mau, tuan akan melihat bahwasanya kebenaranlah yang jadi sendi segala macam bidang kehidupan. Saudagar yang pembohong hanya berlaba sebentar, ekonom yang sejati harus bergantung pada kejujuran, amanat, keteguhan janji, dan keberesan buku perniagaan yang dijalankan dengan segala macam kicuh tidak memberikan ketenteraman bagi jiwa dan tidak kemakmuran. Saudagar penipu hanya berlaba amat sedikit dan rugi lebih banyak karena dia memandang keuntungan yang sekejap bukan laba yang berlama. Tukang yang pemungkir janji dan tidak meladeni kehendak langganan lekas ditinggalkan orang. Majikan yang pembohong diboikot anak semangnya. Guru yang pembohong ditinggalkan muridnya.”
Dan, betapa kata-kata Hamka tentang kebohongan dalam dunia hukum ini seperti memantulkan kembali karut-marut hukum kita dewasa ini: ”Hakim yang pembohong mengacaukan jalan perkara dan menghilangkan rasa keamanan rakyat. Si tertuduh yang berdusta mempersulit jalan perkara. Kesaksian dusta pun lebih mengacaukan lagi: keadilan tersembunyi, orang yang benar teraniaya, dan orang yang bersalah terlepas dari hukuman. Bangsa yang pembohong membawa merosot seluruh kebangsaannya dan kemuliaan negaranya.”
Hamka mengatakan bahwa bohong itu dinamai juga khianat. Dan, untuk itu ia mengutip sabda Nabi Muhammad SAW: ”Amatlah besarnya khianatmu jika engkau cakapkan kepada saudaramu suatu perkara, yang dia menyangka perkataanmu benar. Padahal, engkau sendiri merasa bahwa engkau berdusta.”
Sekali lagi, betapa relevannya kata-kata ini bagi dunia persidangan korupsi kita akhir-akhir ini: khianat adalah laknat.
Jembatan kejujuran
Bohong adalah kanker di hati manusia. Dan, bohong itu bermuara di bibirnya. Karena itu, kebijakan Jawa mengajar: Ajining dhiri ana ing lathi, ajining raga ana ing busana (harga diri manusia ada dalam bibirnya, nilai raga ada dalam busananya). Orang boleh berdandan secantik Putri Indonesia, tetapi apabila ia tidak bisa menjaga bibirnya—artinya suka berbohong—ia tidak berharga sama sekali. Keelokan hanya pada busana dan raganya dan keelokan macam ini hanyalah luaran belaka sejauh tidak dibarengi keelokan bibirnya: bukan karena olesan lipstik mahal, melainkan karena menjadi muara kejujuran hatinya.
Memang kita harus hati-hati dengan bibir kita. Dalam Serat Kancil, pujangga Raden Panji Natarata menulis tentang uwot (jembatan) siratalmustakim. Dalam khazanah Jawa, jembatan itu juga disebut uwot ogal-agil. Jembatan itu selalu goyang karena lebarnya hanya sehelai rambut dibelah seribu. Siapa gagal melewati jembatan, ia akan tercemplung ke dalam neraka jahanam. Dalam pengadilan di hari akhir, setiap orang harus melewatinya. Mana mungkin? Mungkin saja jika berhati tulus dan jujur.
Menurut Raden Panji Natarata, ujian lewat jembatan itu tidak harus datang pada akhir zaman. Katanya, uwot siratalmustakim aneng tutukmu samana kang sanyata (jembatan siratalmustakim itu nyata-nyata ada di bibirmu sekarang). Dengan kata lain, siapa bicara benar, sekarang juga ia lulus. Sebaliknya, siapa bicara bohong, berarti ia gagal meniti jembatan penguji kebaikan dan kejahatan manusia itu. Tidak usah menunggu pengadilan terakhir, sekarang juga ia terpelanting ke dalam neraka kenistaan.
Sekarang bangsa ini sedang meniti uwot siratalmustakim. Jika para pemimpin bangsa yang menuntun kita tak lagi berhati jujur dan mulutnya terus membualkan kata-kata dusta, mereka tidak hanya menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam kenistaan, tetapi juga mencemplungkan kita ke dalam kenistaan. Harga diri bangsa akan terhina dan kita hidup dalam neraka saling ketidakpercayaan.
Dengan hati berdebar-debar kita mengikuti jalannya sidang. Inilah saat kritis, di mana kita dijemput untuk meniti uwot siratalmustakim. Semoga para politikus, jaksa, hakim, pengacara, dan pemuka bangsa yang terlibat sudi anyirnakake ati goroh minangka laku tapane, menyingkirkan hati yang bohong sebagai tindak asketisnya.
Sindhunata Wartawan; Pemimpin Redaksi Majalah Basis, Yogyakarta

Tuesday, February 14, 2012

The Happy Priest




Menemukan kebebasan sejati melalui KETAATAN kpd Tuhan
Oleh Rm. James Farfaglia

Ketaatan merupakan kebajikan yg sangat sukar krn terkadang kebenaran benar-benar menyakitkan. 
Tapi, kita harus menyesuaikan hidup kita kepada kehendak Tuhan, bukan kehendak kita. 

Saya terus memberitakan Injil dan ajaran Gereja Katolik, meskipun hanya tersisa lima orang dibangku gereja. Gereja Katolik bukan menjalankan kontes ketenaran. 
Kebenaran harus selalu dijelaskan dengan kebaikan hati dan kesabaran, tetapi kita tdk akan pernah mengkompromikan kebenaran itu sendiri.

Sebagai org terbaptis Katolik merupakan kewajiban kita untuk patuh kepada Tuhan dan untuk mematuhi ajaran Gereja-Nya. Kepatuhan kepada Tuhan dan kepatuhan kepada Gereja-Nya merupakan pengalaman yang paling membebaskan yang diketahui oleh pribadi manusia.

Ketaatan memberikan kita kebebasan mutlak karena kita tidak berkubang didalam dosa, pikiran, keraguan n kesalahan. Mari kita mengingat apa yang Yesus katakan dilain tempat di dalam Injil: "kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (Yoh 8:32).

Kita semua tahu kita hidup didalam masa kekacauan. Ada kekacauan di dalam Gereja Katolik, ada kekacauan didlm masyarakat dan ada kekacauan di dlm kehidupan berkeluarga. 
Knp begitu banyak kekacauan? Ketidaktaatan. 
Orang tidak mendengarkan. Orang melakukan urusan mereka sendiri.

Sbg Imam Katolik saya terus menerus dikritik oleh bbrp dan diabaikan oleh org lain krn saya berdiri tegak dan dg penuh percaya diri, dg Paus dan semua ajaran Gereja. 
Saya mendengar komentar dr org yg mengatakan bhw bbrp org tdk dtg ke paroki saya krn mrk diberitahu apa yg harus dilakukan atau krn sy terlalu keras. Kita hidup di dalam jaman pemberontakan, ketidakpatuhan dan apostasy. Kebanyakan orang tidak mau mendengar kebenaran dan kebanyakan orang tidak mau diberi tahu bgmn menjalani hidup mrk, bahkan dlm aspek yg paling fundamental dari cara hidup orang Kristen.

Sebenarnya, kita bisa berbalik ke bagian lain dari Kitab Suci dan menemukan gambaran jelas pada waktu yang kita jalani skrg ini. St. Paulus, surat keduanya mengatakan kepada Timotius:

"Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng. Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberitaan Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!" (2Tim 4:3-5) 

Saya percaya bahwa kita hidup dijaman yang St.Paulus prediksikan.

Hari ini, kita semua tahu bhw Gereja, masyarakat dan keluarga berada didalam keadaan kekacauan karena kebanyakan orang tidak mau mendengarkan n kebanyakan org melakukan perbuatan mrk sendiri. Apa yg sehrsnya anda lakukan sekrg ini dan krisis yang sedang berjalan saat ini? Setialah dalam iman dan bertekunlah.

Hidup dan belalah Sepuluh Perintah Allah.
Hidup dan belalah Kitab Suci. Hidup dan belalah semua ajaran Gereja Katolik.

Kita semua tahu bhw hari ini semua org bisa menemukan Imam yg akan mengatakan kpd mereka apapun yg mrk mau dengar. Kita memiliki hadiah yang hebat dari Katekismus Gereja Katolik. Jika ada Imam yang mengatakan sesuatu yang tidak ada disana, tinggalkan. Temukan seorang Imam yang setia, berbicara kebenaran dan memiliki keberanian untuk mengambil sikap.

Amat disayangkan, hari ini, kebanyakan orang Amerika tidak mau mendengar kebenaran. Dalam kehidupan saya sebagai imam paroki saya sudah melihat orang pergi meninggalkan kebenaran hanya demi semangkuk kacang. Sebagian besar, yang mereka semua ingin lakukan adalah melanjutkan gaya hidup tak bermoral mereka.

Katekismus Gereja Katolik dengan hebat menjelaskan hubungan antara pelanggaran susila sekual dan kehilangan iman dengan perkataan ini:

"Sabda bahagia keenam menyampaikan: "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah". 
Hati yang murni merujuk kepada mereka yang telah membiasakan pikiran dan kemauan mereka untuk tuntutan kekudusan Allah, terutama didalam tiga arena: cinta kasih; kemurnian atau kejujuran seksual ; kasih dari kebenaran dan ortodoksi iman" (KGK2518)

Saya sangat gembira sekali fakta bahwa orang muda dan keluarga muda yang lapar akan Katolik-isme yang sesungguhnya. Saya sangat gembira sekali melihat begitu banyak orang muda dan keluarga muda di parokiku. 
Mereka memberikan harapan kepada masa depan. Mereka benar-benar mendapatkannya dan mereka membuat pilihan heroik dalam rangka untuk menjalani hidup sesuai Injil dalam dunia yang sangat menantang.

Romo James Farfaglia, The Happy Priest, adalah Pastor dr Santa Helena Salib Asli dr Yesus Gereja Katolik di Corpus Cristi, Texas dan jg anggota dr Board Direktur Human Life International. 
Anda bisa menunjungi website Romo James di www.fatherjames.org

Tuesday, January 10, 2012

Mengenai Stephen Hawking

Stephen Hawking, terlahir 8 Januari 1942 di Oxford - Inggris, sebagai anak tertua dari empat bersaudara anak-anak Frank & Isobel Hawking. Hari lahirnya bertepatan dengan peringatan ke-300 meninggalnya Galileo - seorang tokoh idola para Fisikawan.
Ketika hanya sedikit wanita yang terpikir untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, Isobel - Ibu Stephen justru meneruskan pendidikannya di Universitas Oxford pada tahun 1930, menjadikannya sebagai pelajar wanita pertama di universitas itu. Ayahnya - Frank Hawking, juga seorang alumni Oxford, seorang peneliti medical dengan spesialisasi penyakit-penyakit tropis adalah seorang sosok yang sangat dihormati.
Kelahiran Stephen terjadi pada saat kondisi keluarga sedang tidak sehat secara finansial, demikian juga situasi politik ketika itu. Inggris sedang terlibat dalam perang dunia ke-2. Hal tersebut membuat Frank terpaksa memindahkan Isobel yang sedang hamil dari rumah mereka di London ke Oxford.  

Tahun 2012 - sang fisikawan kontroversial ini berusia 70 tahun, menarik juga untuk mengetahui mengenainya. Di bawah ini dikutipkan tulisan mengenai Stephen Hawking yang diambil dari harian Kompas - 10 Januari 2012

70 Tahun Hawking: dari Waktu ke Saya


AGNES ARISTIARINI 
”Look up at the stars and not down at your feet” (Pandanglah bintang-bintang, bukan pada kakimu) Stephen Hawking, Fisikawan Teori
Stephen Hawking adalah fenomena. Ia bukan sekadar ilmuwan paling terkenal di dunia yang masih hidup saat ini, melainkan juga simbol semangat hidup yang luar biasa: tidak termasuk murid cemerlang di sekolah dan mendapat serangan motor neuron disease (MND) pada usia 21 tahun yang melemahkan fungsi otot dan sarafnya, tetapi bangkit dan menggagas teori-teori semesta yang menggemparkan dunia.
Dalam separuh abad kariernya sebagai peneliti, Hawking berada di garda depan upaya manusia memahami lubang hitam dan kosmologi kuantum. Buku pertamanya, A Brief History of Time, terjual lebih dari 10.000.000 eksemplar. Kepopulerannya telah membuat ide-idenya diterima di luar kalangan akademik. Hawking bahkan pernah menjadi bintang tamu dalam serial televisi populer The Simpsons dan Star Trek.
Maka, berbagai kalangan pun memestakan ulang tahun ke-70 Hawking dengan penghormatan penuh atas segala pencapaiannya. Ia lahir 8 Januari 1942 di Oxford, Inggris.
Perayaan ulang tahunnya tidak hanya dihadiri segenap sivitas akademika, tetapi juga para kosmolog dan selebriti terkemuka. Di antaranya ada penerima penghargaan Nobel Frank Wilczek dan Saul Perlmutter, juga selebriti Richard Branson.
Perayaan diawali dengan konferensi ilmiah bertema ”The State of the Universe” pada 5-7 Januari dan berpuncak pada 8 Januari dengan ceramah langsung oleh sang legenda.
Meski akhirnya tidak hadir dalam simposium karena kondisi kesehatannya, Hawking mengirim rekaman pidato bertajuk ”The Brief History of Mine”. Ia tidak hanya bicara soal pemahamannya tentang semesta, tetapi juga masa kecil dan perjuangan hidupnya.
”Ingatlah untuk memandang bintang-bintang dan bukan pada kakimu. Betapapun susahnya hidup ini, selalu ada sesuatu yang bisa dikerjakan. Adalah sangat berarti bahwa kita tidak menyerah,” kata Hawking.
Tidaklah mengherankan apabila Martin Rees, fisikawan ternama dari Universitas Cambridge sekaligus kawan lama Hawking, menyebut ulang tahun itu sebagai ”pesta kemenangan terhadap kesengsaraan”.
Riwayat
Seperti yang ditulis The Guardian, Hawking mengaku, masa kecilnya banyak masalah. Ia tidak bisa membaca benar sampai usia delapan tahun, tulisan tangannya membuat para guru putus asa, dan tugas-tugas sekolah yang sangat berantakan pengerjaannya. ”Pada usia 12 tahun, teman-teman saya bahkan bertaruh sekantong permen bahwa saya tidak akan menjadi apa pun,” katanya.
Akan tetapi, ada teman-teman lain menggelarinya Einstein. ”Mungkin karena mereka melihat potensi saya dengan lebih baik,” ujar Hawking menambahkan.
Ia sempat putus asa dan hampir menyerah ketika MND mulai menggerogoti sel-sel saraf dan menghambat mobilitasnya. ”Saya depresi melihat kondisi fisik memburuk begitu cepat. Untunglah saya bertemu Jane. Bertunangan dengannya membuat hidup saya punya arah.”
Pada usia 32 tahun, Hawking lumpuh total. Meski suara semakin tidak jelas, ia masih bisa mengajar, bahkan membimbing mahasiswa. Suaranya hilang sama sekali dalam operasi pneumonia tahun 1985 sehingga harus menggunakan komputer yang memungkinkan memilih kata di layar dengan gerakan mata, lalu dikirim ke mesin bicara, atau printer.
Pada usia 70 tahun pun, Hawking tidak menunjukkan penurunan semangat. Seperti ditulis BBC News, ayah tiga anak dan tiga cucu ini masih mengajar di Universitas Cambridge dan mencoba berbagai tantangan, termasuk naik pesawat antariksa.
”Saya hidup dalam bayang-bayang kematian selama 49 tahun terakhir. Saya tidak takut mati, tetapi tidak ingin buru-buru mati. Ada begitu banyak hal yang masih ingin saya kerjakan,” katanya.
Kontroversi
Meski demikian, Hawking juga manusia. Ia dipuji sekaligus dibenci. Dalam kehidupan pribadinya, orang menghargai perjuangan Hawking, tetapi menyesali perceraiannya setelah 26 tahun perkawinan, menikahi perawatnya, dan kemudian bercerai lagi.
Dalam kehidupan keilmuan, orang mengagumi teorinya tentang lubang hitam. Akan tetapi, bukunya, The Grand Design, yang menyebut tidak perlu adanya campur tangan Tuhan dalam pembentukan semesta, memicu kritik para tokoh agama. Menurut Hawking, sains menunjukkan bahwa berbagai kejadian di semesta berlangsung spontan. ”Maka, kita semua ada semata karena peluang,” katanya.
Hawking menutup pidatonya dengan ungkapan bahagia atas hidup yang dijalaninya dan perannya sebagai peneliti dalam fisika teori. ”Gambaran tentang semesta telah berubah selama 40 tahun terakhir. Saya senang sedikit ikut menyumbang fakta bahwa kita manusia adalah koleksi langka dari partikel dasar di alam dan semakin memahami hukum alam yang mengatur semesta. Itu adalah kemenangan luar biasa.”

Wednesday, December 21, 2011

Masa Depan Bernama Indonesia

Sejarah tidak pernah beringsut secara linier. Evolusi senantiasa disertai oleh involusi. Ada kemajuan sekaligus kemunduran. Tidak terkecuali Indonesia. Sejak Reformasi 1998, sudah banyak kemajuan yang dicatat republik ini. Demokratisasi menjanjikan kebebasan sipil dan politik yang merupakan barang langka sebelumnya.
Ekonomi mencatat pertumbuhan yang cukup konsisten. Pemberantasan korupsi berjalan cukup lumayan. Pendeknya, segenap indikator makro mewartakan kabar gembira.
Namun, di balik gempita kemajuan makro, selalu terselip berbagai kisah orang kecil dan kalah. Indikator makro tidak dapat menjelaskan mengapa nelayan di sentra produksi ikan nasional, seperti di Bagansiapi-api, tetap miskin. Indikator kemajuan demokrasi tidak dapat menjelaskan mengapa orang sulit sekali mendirikan tempat ibadah. Diskursus pembangunan senantiasa berfokus pada pencapaian-pencapaian raksasa dan gagal memeriksa nasib mereka yang paling tidak beruntung.
Diktum pertumbuhan
Pertumbuhan, apa pun kata sifat yang disandangnya, mengandaikan sejarah yang berlangsung linier. Masa depan bukan rahasia, melainkan angka, peringkat, atau rating. Masa depan bukan negativitas yang membikin kita berfokus pada ketidakmungkinan. Dia adalah kemungkinan yang dijemput dengan strategi, langkah, atau rencana. Dengan kata lain, diktum pertumbuhan melihat masa depan sebagai realisasi atau misrealisasi dari rencana.
Republik pun jadi kumpulan rencana demi memenuhi indikator kinerja kunci. Sejarah adalah buatan rencana kerja Presiden. Sementara rencana kerja Presiden bertumpu pada diktum pertumbuhan. Tengok saja pidato Presiden di DPR setiap tanggal 16 Agustus. Presiden senantiasa menyampaikan apa saja yang sudah dicapai berdasarkan diktum pertumbuhan. Patokan kemajuan yang paling sering disebut pertumbuhan ekonomi. Indonesia termasuk negara dengan pertumbuhan ekonomi stabil (6,5 persen) di tengah krisis yang melanda Eropa dan Amerika.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang oleh pasar domestik yang cukup besar dengan kelas menengah yang terus bertambah. Singkat kata, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh konsumsi. Konsumsi membutuhkan pasokan, dari mana pun datangnya.
Sebab itu, Indonesia membuka diri seluas-luasnya bagi modal asing. Modal asing membuka lapangan pekerjaan, yang artinya daya beli. Buat apa menolong nelayan lokal apabila industri pengalengan ikan dapat bernapas melalui impor ikan.
Pertumbuhan hanya berfokus pada kenaikan konsumsi serta bagaimana menjaga agar pasokan stabil dan daya beli kuat. Indonesia saat ini sedang harap-harap cemas agar dapat memperoleh peringkat investment grade di 2012. Peringkat itu bakal membuat Indonesia kian kinclong di mata investor asing. Peringkat tersebut menjanjikan peluang besar bagi Indonesia untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi dan memperbaiki kesejahteraan rakyat.
Masa depan Indonesia tidak lebih dari kumpulan angka dan peringkat. Namun, angka dan peringkat itu bukan masa depan mereka yang miskin. Nasib orang miskin hanya tergantung pada efek berantai dari naiknya jumlah investasi asing.
Angka dan peringkat adalah masa depan bagi mereka yang berkocek tebal sehingga mampu membeli surat berharga. Angka dan peringkat adalah masa depan para pemodal asing yang berniat menanamkan duitnya di republik ini.
Masa depan tanpa masa depan
Sejarah yang dipersepsi sebagai yang bergerak maju memiliki masalah. Kita pun tersedot perhatiannya pada segala sesuatu yang positif dan terukur. Sementara gerak sejarah tak hanya menghasilkan kemajuan positif, tetapi juga jejak-jejak negatif.
Sejarah sebagai dialektika positif membuat kita lalai memeriksa negativitas. Negativitas bukan isyarat perbaikan. Dia bukan got mampat dan banjir yang dapat diperbaiki secara struktural. Negativitas adalah lonceng abadi yang menyabot perhatian kita bahwa masa depan adalah ketidakmungkinan bagi sebagian orang.
Pertumbuhan senantiasa menyoroti pencapaian positif di masa depan. Sementara negativitas bersembunyi di dalam kekinian yang buram. Dia bersemayam di dalam kisah orang-orang yang berkesusahan.
Nelayan Bagansiapi-api adalah negativitas itu. Bayangkan! Setelah 12 jam melaut, nelayan di sana hanya mampu memperoleh ikan senangin sekitar 15 kilogram dengan harga jual Rp 320.000. Dengan penghasilan tersebut, keuntungan yang diperoleh hanya Rp 120.000. Setiap nelayan pun memperoleh Rp 40.000. Uang sebesar itu hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Tabungan tidak ada dan masa depan pun menjadi deus absconditas bagi para nelayan tersebut.
Pertumbuhan senantiasa menyoroti pentingnya pasokan. Saat nelayan Bagansiapi-api dan juga sebagian besar nelayan lainnya gagal memasok industri pengalengan ikan, impor ikan pun dibuka lebar. Semua itu dilakukan demi mengejar angka pertumbuhan ekonomi.
Kita tidak pernah berpikir tentang masa depan nelayan yang hidupnya ”senin-kamis”. Masa depan adalah pidato Presiden di depan DPR yang membeberkan berbagai capaian ekonomi makro. Kita berharap kenaikan produksi tembakau di sentra tembakau seperti di Jawa Timur. Namun, kita tidak peduli nilai tukar petani tembakau yang ditekan para tengkulak. Kenaikan produksi tembakau adalah masa depan tengkulak, bukan petaninya.
Saya memang sinis dengan upaya mengukur masa depan. Bulat lonjong republik ini di tahun 2012 tidak dapat diserahkan kepada indikator-indikator makro dalam diktum pertumbuhan. Namun, tidak berarti masa depan sama sekali tanpa ukuran. Bagi saya, masa depan bukan angka dan peringkat. Masa depan diukur berdasarkan perubahan radikal koordinat ketidakmungkinan mereka yang tidak beruntung. Perubahan radikal ini tidak teraba di dalam indikator-indikator makro. Dia hanya teraba di dalam militansi politik yang berpihak kepada mereka yang tidak bermasa depan.
Kemajuan republik ini tidak disandarkan pada jumlah modal asing yang masuk atau peringkat utang. Dia diukur berdasarkan sejauh mana nelayan Bagansiapi-api dapat menabung sehingga memiliki masa depan. Sejauh mana jaminan sosial membikin orang miskin penderita penyakit kronis tetap memiliki harapan. Indonesia, singkat kata, adalah masa depan bagi semua, bukan segelintir orang. Indonesia adalah masa depan bagi dia yang tidak bermasa depan.
Donny Gahral Adian Dosen Filsafat Politik UI

Tuesday, November 29, 2011

The Postman

The call 
Conall Ó Cuinn SJ sees in the film "The Postman" a parable of vocation, a way God can call us to our destiny, just as he called St Ignatius to be the founder of the Jesuits, a band of men with a new way of serving God.               
The film star Kevin Costner (Dances with Wolves, Thirteen Days, JFK) plays the role of a wandering loner in the film, The Postman. He's at rock bottom. It is the end of the line in many ways, not just for himself, but also for the US which is coming out of a seventeen-year environmental disaster following a devastating war. He himself has lost everything and has chosen 'to become a solitary witness to the chaos that reigned'. His motto, AVOID CIVILIZATION, reflects his cynicism about all relationships, both with others and with his country.

Taken prisoner, he manages to escape, but finds himself alone and lost on a cold, wet, hungry night. Losing his footing, he slides down a sharp incline and crashes into a wrecked US Postal Service van. The driver, now a skeleton, stares at him from the driving seat where he had died long ago. A bleak picture.



For Costner, the postal van means one thing: shelter. He manages to crawl in. In the skeleton's pocket he finds a lighter and a hip flask of whiskey. Jokingly, he toasts the dead postman and he warms himself by making a fire out of some letters. Things are looking up.

Now comfortable, he passes the time by reading the remaining letters aloud to the skeleton in a mocking voice. One letter, however, from a little boy moves him. The boy has lost his first tooth and he is writing to his grandfather to tell him.
 
Costner finds the little tooth in the envelope and examines it. The background music changes, signalling that something deep is happening in him. We. don't know what it is yet. Whatever is happening to him, he puts away the letters, turns on his side and enters into a sort of daydream.

The camera shifts and now we see with Costner's eyes as he reaches out to the dead postman across from him, touching the insignia on his hat: a postman riding a horse with the words, US Post Office Letter Carrier. His touch is reverent. He's in a new space.

Next scene, Costner dressed in the postman's uniform comes upon Pineview, a palisade town patrolled by suspicious armed guards. When challenged to identify himself, he introduces himself as a postman of a newly established US Post Office.

But the guards threaten to shoot him if he doesn't leave. With that he pours out his letters onto the roadway and begins to call out the names on the envelopes. None of them mean anything to the townspeople until the name 'Irene Marsh' provokes a response. From behind the palisade gate we hear Irene ask, 'Did he say my name? She's a blind old lady. Her daughter reads the letter aloud, news of her long-lost family. Irene's blind eyes light up in new hope.

'You're a godsend, a saviour,' Irene proclaims as she turns to thank Costner.

'I'm only the postman,' he replies in humble confusion. Hostility turns to welcome. He's no longer a threat but a hero, the bringer of good news and hope. For them he is 'The Postman'.

Putting the Tooth and the Pineview scenes together we get a wonderful parable on 'Call': Costner is called out of his darkness and despair when he least expects it.

Maybe his motives were still very mixed as he donned the postman's uniform. Nevertheless, he takes up his letter bag and follows the call, not knowing what mysterious journey he is beginning.

At the gates of Pineview he spins a yarn to get into the town to find food and shelter. What he doesn't know is that his words become true as he says them: without knowing it, he is indeed re-establishing the US Postal Service. But he needs Irene Marsh's response to name what is happening: he is being sent by God (godsend) to save this people (saviour). It takes a long time and many trials to accept his call fully. He has moved from pure self-interest to a generous sharing of his newly-discovered gifts of leadership.

Every genuine call has a First Tooth and a Pineview part to it. It begins with an inner movement of the spirit, and is confirmed by others from outside, a call from within and the call from without.

The Postman also shows how we can run from our true call, downplaying it with words like, 'I'm just the postman.' But a true call keeps coming back. It has a sense of destiny to it, something I have to do. It's an apparent contradiction, something I have to do, but freely.

The story of St. Ignatius, the founder of the Jesuits, is like the postman's. He too, hit rock bottom when his leg was smashed by a cannon ball. He too, had time to waste as he recovered over long months and took to reading, not letters, but books. He used to turn over to ponder what he had been reading and the desire arose in him to do great things for God. And with mixed motives, just like the Postman, he set out dressed in the clothes of a pilgrim.

His journey led him to the town of Manresa, where his call became clearer. There, some people recognized his gifts and encouraged him. For them he was a 'godsend', in a way, a 'saviour'. Though not knowing what exactly he was to do, he set out again, a journey which led him eventually to found the Jesuits (a band of men with a new way of serving God). He had discovered his gifts of leadership.

The Postman is about each one of us, for we are all called to move away from isolation and towards community. The Call transforms our love of little self into a love of Big Self. This New Self is what St. Paul referred to when he said, 'It is not I that lives, but Christ lives in me.'

In this Year of Vocation, let us pray that we might not be deaf to the Call.

This article first appeared in The Messenger (December 2008), a publication of the Irish Jesuits.

Wednesday, October 12, 2011

Hasil Diskusi Terbatas Memperingati 50 thn Hirarki Episkopal Gereja Katolik Indonesia


Para Rama Ytks
 
Saya sharingkan hasil diskusi terbatas tgl 12 Oktober 2011 di KWI, memperingati 50 tahun hirarki episkopal Gereja Katolik Indonesia sejak dikeluarkan Konst Apostolik "Quod Christus Adorandus" tgl 3 Januari 1961 oleh Paus Johanes XXIII. Kiranya beberapa poin refleksi di bawah ini bermanfaat bagi kita para imam selaku pembantu Hirarki Gereja Katolik.

1. Makna anugerah dengan dikeluarkan Konst Apost Quod Christus Adorandus adalah ssuatu pengakuan Takhta suci akan kesanggupan Gereja Katolik di Indonesia sanggup mandiri sebagai Hirarki. Artinya Gereja Katolik mampu menjamin kelangsungan keberadaanya, mampu menjalin komunikasi sebagai komunio umat beriman, mampu menjalankan karya misi ke dalam dan ke luar, mampu berkembang menjadi Gereja pribumi, mampu menjadi Gereja yang tidak terpisahkan dari masyarakat bangsa Indonesia.

2. Dalam konteks ini setelah 50 tahun kita ingin merefleksikan, mengevaluasi keberadaan kita sebagai Gereja Katolik terlebih sebagai Hirarki. Kitab Suci dan dokumen Gereja selalu menekankan sifat pengabdian/pelayanan hirarki; memperdalam makna hirarki dan mengusahakan perilaku yang sesuai dengan tuntutan zaman (Mgr Hadisumarto O.Carm)

3. Ada beberapa pokok yang perlu mendapat perhatian kita sebagai imam:
    a. Gereja sebagai komunio umat beriman kristiani tertahbis maupun tidak terhabis (klerus, awam, religius) hendaknya saling bekerjasama, bersinergi saling mendengarkan dan meneguhkan dalam panggilan serta misi Gereja Katolik. Hal ini ditekankan agar tidak terjadi hal berikut ini: "kita baik awam maupun pastor paroki dan para religius sama sama kerja tetapi belum bekerja bersama-sama. Mungkin para rama paroki mendengar persoalan hidup umat dan masayarakat tetapi belum mendengarkan, tahu tetapi belum mengetahui...." (hasil penelitian pendekatan kualitatif menggunakan teknik in depth interview dan group interview, presentasi Francisia SSE Seda, Ph. D). Tidak semua paroki di dalam melaksanakan kehidupan mengGereja termasuk pelayan pastoral Paroki memiliki metode dan proses komunikasi setara. Kesibukan pastor akibat multitasking mengakibatkan pelayanan kepada umat tidak optimal. Maka proses sinergitas dan komunikasi menjadi hal penting dalam membangun Gereja Katolik sebagai persekutuan umat beriman.

    b. Gereja Katolik yang semakin mengindonesia perlu menunjukkan keberpihakan. "Kalau Gereja dekat dengan orang miskin siapa saja akan datang, kalau Gereja hanya dekat dengan orang kaya orang miskin tidak akan datang". Kemiskinan disoroti oleh narasumber Ibu Sri Palupi khususnya wilayah Papua dan NTT dimana mayoritas umat katolik berada di wilayah tersebut. Para pastor hendaknya melihat situasi dan kebutuhan umat yang nyata (real need) bagaimana caranya mengentaskan kemiskinan, bagaimana umat bisa sehat dan dapat memperoleh pendidikan secara baik dan bermutu. Pendidikan penting bagi masa depan Gereja Katolik khususnya di Papua dan NTT perlu tindakan yang serius. Maka Ibu Palupi menekankan pentingnya solidaritas, adanya sense of crisis, bela rasa terhadap yang menderita, miskin, marjinal. Sejak seminari perlu dibina aspek solidaritas, belarasa, kepedulian terhadap yang berkekurangan. Menumbuhkan harga diri bahwa kita bisa keluar dari kemiskinan dan kebodohan. Kita bangun komunitas yang sadar adanya duka dan penderiaan umat.

    c. Kepemimpinan dalam Gereja Katolik, perlu adanya saling mendengarkan, mendukung dalam pelayanan pastoral yang berkarakter. Integritas pelayan pastoral mendapat tekanan dalam membangun Gereja Katolik yang mengindonesia (Rm Madya SJ: berpatoral seluas realitas kehidupan dengan penuh integritas), kepemimpinan yang partisipatif melibatkan semua pihak dan terlebih pastoral adalah karya Allah. Untuk itu perlu ada keseimbangan, menjadi pemimpin yang inspiratif demi menjawab kerumitan dan kesimpangsiuran zaman ini (P. John Prior SVD).

    d. Ecclesia Semper Reformanda (Gereja yang selalu membarui diri sesuai dengan tuntutan zamannya), ada dorongan agar para imam dan hirarki terbuka untuk melibatkan awam yang profesional dalam menjawabi tantangan zaman agar kehadiran Gereja sungguh terasakan bagi umat dan masyarakat. Maka perlu kerjasama antara hirarki dan awam. tempat hirarki tidak lagi di atas awam melainkan sejajar, setara sesuai ajaran KV II dan KHK 1983 (Gereja sebagai umat Allah). Agar Gereja relevan dan signifikan perlu usaha terus menerus karya katekese, pembinaan iman secara serius-kontinyu sejak usia dini hingga lansia. Menjadi katolik yang seratus persen dan warga negara Indonesia yang seratus persen perlu diperjuangkan terus menerus maka dokumen ASG, Nota Pastoral KWI, SAGKI perlu ada implementasi yang sungguh nyata bagi umat, bukan sekedar dokumen yang secara intelektual bagus tapi tindak lanjut, sampai ke akar rumput (KBG, umat di Lingkungan) tidak ada. Peran hirarki, pastor sangat penting dalam hal ini (perlu perhatian bagi pembina calon imam). Maka mari kita mulai dari diri kita sendiri, saat ini dan di sini kita berpijak melangkah menuju harapan cerah Gereja Katolik makin mengindonesia agar kerajaan Allah di bumi pertiwi sungguh terasakan.
 
salam hangat
Kusumawanta